Pages

Ads 468x60px

29 April 2015

CERPEN - Hadiah Untuk Bunda



"Buuunnn...... Bundaa........" Luna terlihat gelisah sambil membongkar isi tas sekolahnya yang sudah dirapikan semalam. seingatnya, ia sudah memasukkan semua perlengkapan sekolahnya hari ini. "Buuun...... pensil warna luna ngga adaa......" Luna merengek saat melihat Bundanya tergopoh mendatangi Luna yang terlihat berantakan di lantai kamar. di kamarnya sudah berserakan buku, pensil dan kotak makanan yang seharusnya sudah tertata rapi didalam tas. "Loh, kan semalam kamu sendiri yang merapikan tas kamu. ayo Luna bergegas. mobil jemputan sebentar lagi datang. ayah sudah berangkat duluan tadi karena ada rapat pagi-pagi" Bunda membantu memasukkan peralatan sekolah ke dalam tas Luna. "Iyaaa.... Luna ingat sudah memasukkannya ke tas semalam. tapi sekarang ngga ada..." Luna memasang wajah cemberut sambil merapikan tasnya kembali. "Buun..... belikan pensil warna yang baru y. yang seperti punya Dina. pensil warnanya bagus dan ada kuasnya untuk melukis. belikan ya bunda ya...?" Luna memeluk lengan Bundanya yang berjongkok sambil menatap anak perempuan satu-satunya yang baru duduk di bangku TK.


"Maaf ya Luna. pensil warna kamu kan baru seminggu lalu dibeli. mungkin kamu lupa memindahkannya atau terselip disuatu tempat. hari ini kamu pinjam punya teman kamu dulu ya" Bunda mencoba membujuk Luna. Ia juga membantu Luna semalam saat membereskan Tas Sekolahnya. Ia tak mau Luna berangkat dengan perasaan kecewa namun Ia juga tak ingin terburu-buru mengabulkan permintaan Luna. Bis Jemputan sudah membunyikan klaksonnya di depan rumah. Luna berlari meninggalkan Bundanya yang masih merapikan barang-barang lain yang terkena imbas kekesalan Luna. Luna masuk ke dalam bis jemputan tanpa memeluk dan mencium Bundanya seperti biasanya saat ia berangkat ke sekolah. Luna kecewa dan marah, Bunda tidak mau membelikan pensil warna baru untuknya padahal Luna senang sekali mewarnai. Ia tidak suka menggunakan pensil warna orang lain. Bunda pun tak sempat mengejar Luna yang belum memberikan pelukan dan kecupan dipipinya pagi ini. Bis jemputan hanya meninggalkan kepulan asap yang menandakan mereka baru saja berangkat sedetik yang lalu.


Hari ini Luna tidak bersemangat sekolah. jadwal hari ini adalah kelas seni dan agama. saat kelas seni, Luna tak bersemangat saat mewarnai gambar masjid yang diberikan oleh ibu guru. Dina teman sebangkunya menawarkan pensil warna miliknya yang masih baru untuk digunakan bersama-sama dengan Luna. Luna menolaknya, Ia ingin menggunakan pensil warna miliknya sendiri. Akhirnya Luna hanya mewarnai masjidnya dengan pensilnya sehingga gambarnya hanya terlihat hitam putih. Ibu guru mencoba membujuk Luna untuk mau menggunakan milik temannya tapi akhirnya pasrah dan membiarkan Luna mencoret-coret gambar masjidnya sambil tetap memasang wajah cemberut seperti saat merengek di rumah tadi pagi.


Ibu guru bergegas mengumpulkan hasil karya murid-murid TK Az-Zahra. Luna menyerahkan gambar masjid dengan kubah berwarna hitam dan pohon berdaun hitam. Ibu guru hanya tersenyum lantas mengusap kepala Luna "Warna yang bagus Luna. apalagi jika kamu menambahkan lain kedalamnya." Ibu guru tersenyum melihat wajah Luna yang masih sedih. Dina - kawan sebangkunya - tetap berusaha menghibur Luna dengan menawarkan pensil warnanya untuk dipinjam Luna di kelas seni berikutnya. Luna menunduk diam di mejanya.


"Nah, setelah kita mewarnai gambar masjid. sekarang kita akan belajar menghafal doa ya anak-anak" Ibu guru dengan antusias mengajak murid-muridnya membereskan peralatan mewarnai dan mengubah kursinya agar menghadap ke depan kelas. "Iyaaa buu guruu......" Dina menjawab dengan antusias sementara Luna tetap diam membisu menatap lantai. "Hari ini, kita akan menghafal doa untuk kedua orang tua. siapa yang sudah hafal?" sebenarnya Luna sudah hafal doa itu. Bunda selalu mengajaknya berdoa ketika selesai sholat. Jika bukan karena pensil warnanya yang hilang, mungkin Luna sudah mengangkat tangan saat Ibu guru bertanya. tapi ia tidak bersemangat saat ini. Ibu guru membacakan perlahan doa untuk kedua orang tua sementara murid-murid mengikuti ucapan Ibu guru. Sesekali Ibu guru mengajak Luna untuk ikut membaca, tapi sepertinya Luna memang tak mau dinganggu dulu.


Sebagian murid sudah menghafal doa tersebut. Ibu guru memang mengajarkan hafalan doa dengan irama yang menyenangkan sehingga murid-murid pun menghafal dengan riang. Dina sendiri sudah sejak tadi membaca doa untuk kedua orang tua sambil asik menyantap roti makan siangnya. Ibu guru mengingatkan Dina untuk tidak berbicara saat makan. Luna menghabiskan serealnya tanpa berkata apa-apa. Dina menawarkan roti miliknya namun Luna hanya menggeleng. Dina pun kembali asik membaca setelah ia menghabiskan roti miliknya. setelah semua peralatan makan sudah dimasukkan ke dalam tas, Ibu guru menutup kelas hari ini dengan lagu perpisahan sambil bertepuk tangan.


Luna merapikan tali tas ke bahunya dan berjalan gontai keluar kelas. beberapa murid berlari mendahuluinya sambil menggoda Luna yang tetap cemberut sepanjang hari. Ibu guru mengusap lembut kepala Luna. "Luna, apa kamu masih marah dengan Bundamu?" Ibu guru berjongkok di sebelah Luna sambil memegang kedua bahu Luna. Luna menundukkan kepala, wajahnya masih sedih. "Bunda tidak sayang dengan Luna. Bunda kan tau kalau Luna suka mewarnai" akhirnya Luna menyampaikan juga kekecewaannya. Bulir air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Bu guru pun memeluk Luna lalu menatap Luna yang masih menunduk. "Luna, Bunda pasti sayang sama Luna. mungkin saat ini Bunda sedang sibuk mencari pensil warna Luna. Bunda juga sedih melihat Luna berangkat tanpa mengecup dan memeluk Bunda Luna seperti biasanya". Ibu guru sudah mengetahui kejadian tadi pagi di rumah ketika Bundanya Luna menghubunginya sebelum bis jemputan tiba di sekolah. jadi dia memaklumi Luna yang seharian tidak bersemangat sekolah.


Kini Luna sudah meneteskan air matanya. Ia memang marah kepada Bundanya tapi ia juga sedih karena telah membuat bundanya sedih karena ia tidak memeluknya Bunda pagi ini. biasanya saat berangkat, Luna selalu memeluk dan mengecup pipi Bunda sebelum berangkat. Bundanya pun akan menjawil pipi Luna sebelum Luna naik bis jemputan. Luna pun berjanji akan meminta maaf kepada Bunda saat datang menjemput nanti. harusnya sebentar lagi Bunda akan tiba di depan gerbang sekolah. Ia memang tak ikut bis jemputan saat sepulang sekolah. Bundanya akan menjemput sepulang dari pasar seperti biasanya.


"Nah, itu Bunda kamu sudah datang". Luna mengangkat wajahnya. Ia mencoba mengusap kedua matanya dengan lengan bajunya. Ia sudah kangen untuk memeluk dan mencium Bundanya. Ibu guru tersenyum dan melepas Luna yang bergegas berlari menuju Bundanya yang tersenyum sambil menatap putrinya yang berlari ke arahnya. Bunda segera berjongkok dan menangkap Luna yang memeluk leher Bundanya dengan erat. Ia bisa mendengar isak tangis putrinya beserta air mata yang terasa hangat di tengkuknya. "Maafin Luna Bundaaa..... Luna tidak akan meminta pensil warna baru. Luna akan pinjam saja punya Dina. Bunda simpan saja uang Bunda. Nanti Luna akan beli dengan uang tabungan Luna jika sudah cukup". Luna berkata sambil terisak di pelukan Bundanya.


"Iyaaa... Maafin Bunda juga ya cantik. oiya, bunda punya hadiah untuk kamu...." Luna seketika melepas pelukannya. Ia menatap wajah Bunda yang juga memerah menahan air matanya. Bunda tersenyum lalu mengeluarkan sesuatu dari tas belanjaannya. Mata Luna membulat dan wajahnya tak bisa menahan rasa senangnya. Bukan, hadiah dari Bunda bukan sekotak pensil warna baru. Bunda membelikan sebuah buku gambar dengan sampul bergambar pemandangan alam. Luna memang senang mewarnai alam. karena di alam, Luna bisa menggunakan berbagai warna sesuka hatinya. Luna memeluk buku gambar barunya kemudian mengucapkan terima kasih kepada Bunda. "Bundaa... makasih hadiahnya. Luna suka sekali buku gambarnya. tapi bagaimana Luna akan mewarnainya? oiya, nanti Luna bawa ke sekolah saja dan mengajak Dina untuk mewarnai bersama"


Luna sudah ceria kembali. Ia sudah merelakan pensil warnanya. Ia akan bersabar untuk menabung uang jajannya agar bisa membeli pensil warna baru. "Kamu bisa mewarnai bukunya dirumah... Ternyata pensil warnanya terbawa oleh ayah. semalam ayah meminjam pensil warnamu untuk mewarnai desain gambar namun lupa mengembalikan ke tasmu karena terburu-buru tadi pagi" Bunda menjelaskan penyebab Luna hari ini tidak menemukan pensil warnanya di tas sekolahnya. Bunda pun memeluk Luna dan menyampaikan permohon maaf dari Ayah yang baru sadar ketika Bunda menelpon Ayah tentang pensil warna Luna yang Hilang.


Luna semakin senang. ternyata pensil warnanya hanya terbawa oleh Ayahnya. Luna pun senang lalu ia berbisik ke telinga Bundanya. "Bun... Luna juga punya hadiah untuk Bunda." Luna tetap memeluk Bundanya sambil kemudian kembali berbisik.


"Robbighfirlii Waliwaa lidayya Warhamhuma kamaa rabbayaani Shoghiiroo.... yaa allaah, ampunilah aku juga ayah dan bundaku. sayangilah kedua orangtuaku seperti mereka menyayangiku di waktu kecil... aamiiin.."


Bunda tak mampu menahan airmatanya, ia terisak sambil memeluk Luna yang sudah memeluknya lebih erat. Ibu guru masih berdiri di depan pintu kelas sambil menyaksikan kejadian tersebut sejak tadi. Ibu guru pun menghampiri Luna dan Bundanya yang kini sudah merapikan barang-barangnya dan bersiap pulang. "Luna, ini gambar masjid dari Ibu guru. kamu boleh mengulang mewarnai gambarnya dan menyerahkan besok ke Ibu guru. Warnai yang cantik ya nak" Ibu guru mengusap rambut Luna dan menyerahkan gambar masjid yang baru ke Luna. Luna pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada Ibu guru atas gambar masjidnya. kini Ia bisa memperbaiki gambar masjid yang tadi hanya berwarna hitam putih.

@ZuhriUtama
Semarang, 29 April 2015

0 comments:

Post a Comment