Pages

Ads 468x60px

Featured Posts

16 September 2018

Belajar tahsin itu penting


Saya akhirnya memulai kembali bertalaqqi (belajar) al qur'an kepada seorang guru di rumah tartil qur'an yang diasuh oleh ustadz muslim yang merupakan ayah dari hilya sang juara hafizh cilik.

Kali ini lebih saya mantapkan kembali niat saya memperbaiki bacaan qur'an saya. Karena sebelum menjadi seorang hafizh, hal yang lebih penting adalah mampu membacanya dengan tartil yaitu benar makharijul huruf dan tajwidnya.

Saya mengikuti kelas tiap sabtu pagi yang berganti tiap pekannya yaitu antara talaqqi jama'i (bersama sama) dan talaqqi fardhi (perorangan). Sabtu kemarin sudah sampai pada pertemuan keempat walaupun saya sempat bolos satu kali karena kesalahan informasi.

Pelajaran dimulai dari surah al fatihah. Saya sendiri belum sampai tahap benar benar tartil dalam membacanya meskipun sudah sejak kecil saya hafal di luar kepala surah ini. Bahkan ada pepatah bilang saat kita membaca al fatihah lalu dikejutkan, kita masih bisa mampu melanjutkan bacaan itu. Saking hafalny.

Tapi ternyata yang saya hafal masih jauh dari cara baca yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wassalam (allahumma shalli 'alaih). Saya merasa bersyukur masih diberi jalan untuk menyempurnakan bacaan saya.

Semoga saya bisa istiqomah dalam belajar membaca al qur'an secara tartil dan semoga bacaan ini menjadi jalan bagi saya untuk bisa meraih ridho dari Allah subhanallahu wata'ala.

Aamiin

27 January 2016

Puja dan Puji

image from pinterest.com

Puja tak banyak bicara
Dia suka diam saja
Tapi duduk bersamanya
Tak pernah bosan jua

Puji lain lagi
Cowo ini cerewet sekali
Apa saja dikritisi
Tapi kata2nya tak pernah menyakiti

Puja dan puji
Sahabat sedari kecil
Sebangku di SD 03 pagi
Hingga kini mereka tetap seperti anak kecil

Puja sang arsitek bersahaja
Merenung dan merancang
Tapi ia tak suka kesunyian
Suara cempreng puji mengisi hari2nya

Puji sang reporter kondang
Suaranya lugas berapi-api
Ia tak peduli meski puja tak menanggapiny
Berbicara dengannya melewati batas dimensi

Puja dan puji
Bagi puja,  puji adalah suara yang mengisi dunianya
Bagi puji,  puja adalah pendengar setianya
Saling mengisi tempat di dalam hati mereka

Puja tak tahu
Puji meliput desa di ujung timur indonesia
Kapalnya oleng terhempas karang
Suarany hilang ditelan gelombang

Puji terselamatkan
Ditolong nelayan sepulang dari lautan
Puja dengar dari berita
Sahabatny selamat dan sedang menuju jakarta

Puja menatap puji di pembaringan
Kamar sunyi namun hati puja ramai
Emosinya terkumpul di ujung bibir
Detik itu puja pun berucap pada puji

Sahabatku
Tak pernah aq menanggapi kata-katamu
Namun tak pernah bosan kamu bercerita padaku
Tentang mimpimu,  tentang perasaanmu

Maafkan aku
Saat kamu diam disini
Aku baru menjawab pertanyaanmu
Maukah kamu bersamaku? Ya ya..  Aku mau

Puji melepas senyumnya
Meski tak ad suara yg keluar
Senyumnya selalu penuh cerita
Wajah yang selalu disukai puja

Puja dan puji
Hidup bahagia dengan cara mereka
Puja yang kini banyak bercerita
Puji yang selalu setia mendengarkannya

12 June 2015

tidak bermanfaat yang 7 tanpa yang 7


tidak bermanfaat yang 7 tanpa yang 7
disarikan dari kitab tanbihul ghofilin (peringatan bagi orang2 yang lalai)
halaman 8 paragraf 3

berkata seorang yang bijak dari para orang bijak : barang siapa mengamalkan yang tujuh tanpa yang tujuh, maka tidak bermanfaat baginya dari apa yang dikerjakannya itu,

yang pertama : dia beramal dengan takut tanpa berhati2, yakni dia mengatakan sesungguhnya aku takut atas 'adzab allaah dan dia tidak berhati2 dari dosa. maka tidak ada manfaat baginya atas perkataan itu sedikitpun.

yang kedua : dia mengamalkan dengan harapan tanpa menuntut. yakni dia mengatakan sesungguhnya aku berharap atas pahala dari allaah swt dan dia tidak menuntut pahala tsb dengan amalan2 yang sholih. maka tidaklah bermanfaat baginya perkataan2nya sedikitpun.

yang ketiga : niat tanpa maksud (tujuan). yakni dia berniat dengan hatinya untuk mengamalkan dengan ta'at dan baik dan tidak bermaksud bagi dirinya, maka tidak bermanfaat niatnya sedikitpun.

yang keempat : doa tanpa sungguh2, yakni dia berdoa kepada allaah swt agar allah memberikannya taufik untuk berbuat baik dan tanpa bersungguh2 maka tidak bermanfaat doanya sedikitpun. dan selayak baginya dia bersungguh2 agar allah memberikannya taufik allaah swt, sebagaimana yang allaah firmankan [Al-Ankabut:69] : (Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik) yakni orang2 yang bersungguh2 dalam ta'at dan dalam agamanya, sungguh pasti kami akan berikan taufik tentang demikian.

yang kelima : istighfar tanpa penyesalan, yakni dia mengatakan aku memohon ampun kepada allaah, dan dia tidak menyesali atas apa yang ada padanya dari dosa2 tsb, maka tidak bermanfaat baginya istighfar tanpa penyesalan.

yang keenam : dzohir tanpa batin, yakni orang2 yang memperbaiki perkara2nya pada yang dzohir tanpa memperbaiki dalam batinnya maka tidak bermanfaat zhohirnya sedikitpun.

yang ketujuh : kerja keras tanpa ikhlas, yakni dia bersungguh2 dalam perbuatan ta'at dan tidak ada amalan2nya yang ikhlas kepada allaah swt, maka tidak bermanfaat baginya amalan2 tanpa keikhlasan tsb maka menjadi demikian itu keterpedayaan bagi dirinya.

30 April 2015

I am Coming Home

gambar : http://tomcopelandblog.typepad.com/


huaaahhh...... waktu yang dinanti, saat yang ditunggu, moment yang diharapkan akhirnya tiba juga. saya pulang mamah.

sebenarnya saya memang rutin pulang sebulan sekali minimal sekedar untuk mengingatkan bahwa saya masih punya keluarga di jakarta namun kepulangan saya biasanya hanya sekedar saat weekend ditambah cuti dan kembali lagi. tapi kepulangan ini berbeda. saya akan pulang, benar-benar pulang. mengosongkan lemari dan memasukkan semua barang yang bertambah selama berada di semarang.

sudah 5 bulan saya berada di Semarang, sebulan lagi makan genaplah saya setengah tahun di Semarang tapi saya tidak suka yang genap saat ini, sekarang saatnya pulang. semakin dinanti maka semakin kuat perasaan bahagianya saat momen itu tiba.

bertugas selama di Semarang coret (karena bukan di kota tapi di perbatasan semarang barat), membuat hidup saya berubah 180 derajat. jauh dari pusat keramaian, makanan yang menurun kualitas, kebiasaan yang harus diperbaiki dan lebih teliti merawat diri sendiri.

memang tidak ada jaminan bahwa saya tidak akan kembali lagi ke semarang tapi setidaknya saya akan tinggal lebih lama di jakarta untuk kembali merasakan hiruk pikuk kota jakarta. saya menyukai keramaian maka hidup di suatu tempat terpencil membuat saya seperti kehilangan telinga. tak ada gemuruh kendaraan, teriakan anak-anak di jalan, terompet tukang jualan dan berbagai suara yang dengan rajinnya menepuk-nepuk gendang telinga saya.

tas sudah penuh terisi, meski beberapa buku tidak lagi mampu dijejalkan ke dalamnya. saya hanya berharap kawan saya yang masih di semarang mau mengirimkan bukunya melalui paket pengiriman ke rumah saya di jakarta. lalu ada beberapa kotak makanan yang setiap kali saya berangkat ke semarang, ibu saya selalu membuatkan lauk kering yang tahan lama agar saya bisa mendapat variasi makanan yang tidak itu-itu saja (baca : mie. tinggal pilih rasa apa).

tapi setiap tempat punya kenangan dan setiap kejadian punya pengalaman. mungkin saat saya kembali ke jakarta dan merindukan semarang, saya akan menuliskan daftar kenangan dan pengalaman yang tidak saya dapatkan di jakarta.

sampai jumpa di jakarta.

@ZuhriUtama
Semarang, 30 April 2015

29 April 2015

CERPEN - Hadiah Untuk Bunda



"Buuunnn...... Bundaa........" Luna terlihat gelisah sambil membongkar isi tas sekolahnya yang sudah dirapikan semalam. seingatnya, ia sudah memasukkan semua perlengkapan sekolahnya hari ini. "Buuun...... pensil warna luna ngga adaa......" Luna merengek saat melihat Bundanya tergopoh mendatangi Luna yang terlihat berantakan di lantai kamar. di kamarnya sudah berserakan buku, pensil dan kotak makanan yang seharusnya sudah tertata rapi didalam tas. "Loh, kan semalam kamu sendiri yang merapikan tas kamu. ayo Luna bergegas. mobil jemputan sebentar lagi datang. ayah sudah berangkat duluan tadi karena ada rapat pagi-pagi" Bunda membantu memasukkan peralatan sekolah ke dalam tas Luna. "Iyaaa.... Luna ingat sudah memasukkannya ke tas semalam. tapi sekarang ngga ada..." Luna memasang wajah cemberut sambil merapikan tasnya kembali. "Buun..... belikan pensil warna yang baru y. yang seperti punya Dina. pensil warnanya bagus dan ada kuasnya untuk melukis. belikan ya bunda ya...?" Luna memeluk lengan Bundanya yang berjongkok sambil menatap anak perempuan satu-satunya yang baru duduk di bangku TK.


"Maaf ya Luna. pensil warna kamu kan baru seminggu lalu dibeli. mungkin kamu lupa memindahkannya atau terselip disuatu tempat. hari ini kamu pinjam punya teman kamu dulu ya" Bunda mencoba membujuk Luna. Ia juga membantu Luna semalam saat membereskan Tas Sekolahnya. Ia tak mau Luna berangkat dengan perasaan kecewa namun Ia juga tak ingin terburu-buru mengabulkan permintaan Luna. Bis Jemputan sudah membunyikan klaksonnya di depan rumah. Luna berlari meninggalkan Bundanya yang masih merapikan barang-barang lain yang terkena imbas kekesalan Luna. Luna masuk ke dalam bis jemputan tanpa memeluk dan mencium Bundanya seperti biasanya saat ia berangkat ke sekolah. Luna kecewa dan marah, Bunda tidak mau membelikan pensil warna baru untuknya padahal Luna senang sekali mewarnai. Ia tidak suka menggunakan pensil warna orang lain. Bunda pun tak sempat mengejar Luna yang belum memberikan pelukan dan kecupan dipipinya pagi ini. Bis jemputan hanya meninggalkan kepulan asap yang menandakan mereka baru saja berangkat sedetik yang lalu.


Hari ini Luna tidak bersemangat sekolah. jadwal hari ini adalah kelas seni dan agama. saat kelas seni, Luna tak bersemangat saat mewarnai gambar masjid yang diberikan oleh ibu guru. Dina teman sebangkunya menawarkan pensil warna miliknya yang masih baru untuk digunakan bersama-sama dengan Luna. Luna menolaknya, Ia ingin menggunakan pensil warna miliknya sendiri. Akhirnya Luna hanya mewarnai masjidnya dengan pensilnya sehingga gambarnya hanya terlihat hitam putih. Ibu guru mencoba membujuk Luna untuk mau menggunakan milik temannya tapi akhirnya pasrah dan membiarkan Luna mencoret-coret gambar masjidnya sambil tetap memasang wajah cemberut seperti saat merengek di rumah tadi pagi.


Ibu guru bergegas mengumpulkan hasil karya murid-murid TK Az-Zahra. Luna menyerahkan gambar masjid dengan kubah berwarna hitam dan pohon berdaun hitam. Ibu guru hanya tersenyum lantas mengusap kepala Luna "Warna yang bagus Luna. apalagi jika kamu menambahkan lain kedalamnya." Ibu guru tersenyum melihat wajah Luna yang masih sedih. Dina - kawan sebangkunya - tetap berusaha menghibur Luna dengan menawarkan pensil warnanya untuk dipinjam Luna di kelas seni berikutnya. Luna menunduk diam di mejanya.


"Nah, setelah kita mewarnai gambar masjid. sekarang kita akan belajar menghafal doa ya anak-anak" Ibu guru dengan antusias mengajak murid-muridnya membereskan peralatan mewarnai dan mengubah kursinya agar menghadap ke depan kelas. "Iyaaa buu guruu......" Dina menjawab dengan antusias sementara Luna tetap diam membisu menatap lantai. "Hari ini, kita akan menghafal doa untuk kedua orang tua. siapa yang sudah hafal?" sebenarnya Luna sudah hafal doa itu. Bunda selalu mengajaknya berdoa ketika selesai sholat. Jika bukan karena pensil warnanya yang hilang, mungkin Luna sudah mengangkat tangan saat Ibu guru bertanya. tapi ia tidak bersemangat saat ini. Ibu guru membacakan perlahan doa untuk kedua orang tua sementara murid-murid mengikuti ucapan Ibu guru. Sesekali Ibu guru mengajak Luna untuk ikut membaca, tapi sepertinya Luna memang tak mau dinganggu dulu.


Sebagian murid sudah menghafal doa tersebut. Ibu guru memang mengajarkan hafalan doa dengan irama yang menyenangkan sehingga murid-murid pun menghafal dengan riang. Dina sendiri sudah sejak tadi membaca doa untuk kedua orang tua sambil asik menyantap roti makan siangnya. Ibu guru mengingatkan Dina untuk tidak berbicara saat makan. Luna menghabiskan serealnya tanpa berkata apa-apa. Dina menawarkan roti miliknya namun Luna hanya menggeleng. Dina pun kembali asik membaca setelah ia menghabiskan roti miliknya. setelah semua peralatan makan sudah dimasukkan ke dalam tas, Ibu guru menutup kelas hari ini dengan lagu perpisahan sambil bertepuk tangan.


Luna merapikan tali tas ke bahunya dan berjalan gontai keluar kelas. beberapa murid berlari mendahuluinya sambil menggoda Luna yang tetap cemberut sepanjang hari. Ibu guru mengusap lembut kepala Luna. "Luna, apa kamu masih marah dengan Bundamu?" Ibu guru berjongkok di sebelah Luna sambil memegang kedua bahu Luna. Luna menundukkan kepala, wajahnya masih sedih. "Bunda tidak sayang dengan Luna. Bunda kan tau kalau Luna suka mewarnai" akhirnya Luna menyampaikan juga kekecewaannya. Bulir air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Bu guru pun memeluk Luna lalu menatap Luna yang masih menunduk. "Luna, Bunda pasti sayang sama Luna. mungkin saat ini Bunda sedang sibuk mencari pensil warna Luna. Bunda juga sedih melihat Luna berangkat tanpa mengecup dan memeluk Bunda Luna seperti biasanya". Ibu guru sudah mengetahui kejadian tadi pagi di rumah ketika Bundanya Luna menghubunginya sebelum bis jemputan tiba di sekolah. jadi dia memaklumi Luna yang seharian tidak bersemangat sekolah.


Kini Luna sudah meneteskan air matanya. Ia memang marah kepada Bundanya tapi ia juga sedih karena telah membuat bundanya sedih karena ia tidak memeluknya Bunda pagi ini. biasanya saat berangkat, Luna selalu memeluk dan mengecup pipi Bunda sebelum berangkat. Bundanya pun akan menjawil pipi Luna sebelum Luna naik bis jemputan. Luna pun berjanji akan meminta maaf kepada Bunda saat datang menjemput nanti. harusnya sebentar lagi Bunda akan tiba di depan gerbang sekolah. Ia memang tak ikut bis jemputan saat sepulang sekolah. Bundanya akan menjemput sepulang dari pasar seperti biasanya.


"Nah, itu Bunda kamu sudah datang". Luna mengangkat wajahnya. Ia mencoba mengusap kedua matanya dengan lengan bajunya. Ia sudah kangen untuk memeluk dan mencium Bundanya. Ibu guru tersenyum dan melepas Luna yang bergegas berlari menuju Bundanya yang tersenyum sambil menatap putrinya yang berlari ke arahnya. Bunda segera berjongkok dan menangkap Luna yang memeluk leher Bundanya dengan erat. Ia bisa mendengar isak tangis putrinya beserta air mata yang terasa hangat di tengkuknya. "Maafin Luna Bundaaa..... Luna tidak akan meminta pensil warna baru. Luna akan pinjam saja punya Dina. Bunda simpan saja uang Bunda. Nanti Luna akan beli dengan uang tabungan Luna jika sudah cukup". Luna berkata sambil terisak di pelukan Bundanya.


"Iyaaa... Maafin Bunda juga ya cantik. oiya, bunda punya hadiah untuk kamu...." Luna seketika melepas pelukannya. Ia menatap wajah Bunda yang juga memerah menahan air matanya. Bunda tersenyum lalu mengeluarkan sesuatu dari tas belanjaannya. Mata Luna membulat dan wajahnya tak bisa menahan rasa senangnya. Bukan, hadiah dari Bunda bukan sekotak pensil warna baru. Bunda membelikan sebuah buku gambar dengan sampul bergambar pemandangan alam. Luna memang senang mewarnai alam. karena di alam, Luna bisa menggunakan berbagai warna sesuka hatinya. Luna memeluk buku gambar barunya kemudian mengucapkan terima kasih kepada Bunda. "Bundaa... makasih hadiahnya. Luna suka sekali buku gambarnya. tapi bagaimana Luna akan mewarnainya? oiya, nanti Luna bawa ke sekolah saja dan mengajak Dina untuk mewarnai bersama"


Luna sudah ceria kembali. Ia sudah merelakan pensil warnanya. Ia akan bersabar untuk menabung uang jajannya agar bisa membeli pensil warna baru. "Kamu bisa mewarnai bukunya dirumah... Ternyata pensil warnanya terbawa oleh ayah. semalam ayah meminjam pensil warnamu untuk mewarnai desain gambar namun lupa mengembalikan ke tasmu karena terburu-buru tadi pagi" Bunda menjelaskan penyebab Luna hari ini tidak menemukan pensil warnanya di tas sekolahnya. Bunda pun memeluk Luna dan menyampaikan permohon maaf dari Ayah yang baru sadar ketika Bunda menelpon Ayah tentang pensil warna Luna yang Hilang.


Luna semakin senang. ternyata pensil warnanya hanya terbawa oleh Ayahnya. Luna pun senang lalu ia berbisik ke telinga Bundanya. "Bun... Luna juga punya hadiah untuk Bunda." Luna tetap memeluk Bundanya sambil kemudian kembali berbisik.


"Robbighfirlii Waliwaa lidayya Warhamhuma kamaa rabbayaani Shoghiiroo.... yaa allaah, ampunilah aku juga ayah dan bundaku. sayangilah kedua orangtuaku seperti mereka menyayangiku di waktu kecil... aamiiin.."


Bunda tak mampu menahan airmatanya, ia terisak sambil memeluk Luna yang sudah memeluknya lebih erat. Ibu guru masih berdiri di depan pintu kelas sambil menyaksikan kejadian tersebut sejak tadi. Ibu guru pun menghampiri Luna dan Bundanya yang kini sudah merapikan barang-barangnya dan bersiap pulang. "Luna, ini gambar masjid dari Ibu guru. kamu boleh mengulang mewarnai gambarnya dan menyerahkan besok ke Ibu guru. Warnai yang cantik ya nak" Ibu guru mengusap rambut Luna dan menyerahkan gambar masjid yang baru ke Luna. Luna pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada Ibu guru atas gambar masjidnya. kini Ia bisa memperbaiki gambar masjid yang tadi hanya berwarna hitam putih.

@ZuhriUtama
Semarang, 29 April 2015