Pages

Ads 468x60px

29 April 2015

CERPEN - Pintu Ikhlas


baca kisah sebelumnya - pintu hati

"Permisi kakak...... bisa minta waktunya sebentar". sejenak ku hentikan langkahku yang tergesa-gesa. tidak, aku sedang tidak dalam satu urusan apapun. namun hawa panas kota semarang memacu tubuhku untuk segera menemukan tempat teduh untuk menurunkan suhu badan yang mendidih di kepala. riuh rendah keramaian jalan raya di sekitar simpang lima memang tak pernah sepi apalagi di waktu akhir pekan seperti ini. meski panas, para masyarakat kota semarang tetap sibuk beraktifitas di luar rumah mencari hiburan. sekedar menonton film terbaru ataupun menikmati kudapan lezat dari restoran dan foodcourt di kawasan simpang lima semarang.


ku tengok anak muda dengan gaya kekinian yang tadi menyapaku. "hah, sejak kapan saya punya adik di semarang". gerutuku karena harus berhenti di tengah terik panas siang hari. kota semarang yang berada di pesisir utara pulau jawa merupakan ibukota provinsi jawa tengah. dihubungkan dengan bandara international ahmad yani dan pelabuhan tanjung mas, kota semarang menjadi salah satu kota industri yang digerakkan perekenomiannya oleh industri-industri di sekitar kota semarang seperti kawasan industri candi dan kawasan industri wijayakusuma.


"maaf kakak, boleh minta waktunya sebentar?" sambil tetap memasang wajah ceria meski peluh diwajahnya terlihat jelas. "ya, ada apa?" aku coba menahan diri untuk tidak berlaku kasar meski ku jawab dengan wajah datar. "kami dari yayasan sosial ingin menawarkan voucher diskon seharga seratus ribu yang uangnya akan menjadi donasi untuk yayasan sosial ini. voucher ini bisa digunakan diberbagai restoran kak. gmn kak? mau membantu kami?" ucapnya cepat namun teratur. aku pun menggelengkan kepala "maaf, tidak. terima kasih".


aku pun berlalu meninggalkan pemuda yang tidak sempat menjawab perkataanku dan segera menepi di sisi tembok pembatas masjid baiturrahman semarang. kawasan simpang lima memang menjadi pusat kota semarang. terdapat masjid baiturrahman dan 2 mal besar dengan sebuah lapangan luas di tengah kawasan simpang lima. aku segera memasuki sebuah mal yang tak jauh dari masjid. "fiuh..." rasa dingin menjalari dari ujung kepala hingga kaki. setelah sejenak menarik nafas dan menurunkan suhu tubuh, ku langkahkan kaki menuju foodcourt yang berada di lantai paling atas.


sudah sebulan sejak kejadian saat aku menemukan sebuah kunci dengan gantungan berbentuk inisial huruf F dan tulisan "PGSD UNNES" di bis jurusan semarang solo saat aku berakhir pekan ke kota solo. sejak saat itu, beberapa kali ku coba mendatangi gedung PGSD UNNES sekedar berharap bisa menemukan wanita berjilbab biru itu disana. entahlah, tidak bisa dibilang suka juga. namun ada perasaan mengganjal untuk segera mengembalikan kunci ini. jemariku masih menggenggam gantungan kunci tembaga berbentuk huruf F. sambil menunggu pesanan mie goreng jawa di salah satu kedai, ku raba tepian ukiran tembaga itu. meraba-raba ingatan dan mencoba mencari jawaban siapa nama pemiliknya. berinisial huruf F dan kuliah di PGSD UNNES.


"permisi....." seorang wanita paruh baya meletakkan sepiring mie goreng jawa panas yang masih mengepulkan asap. ku biarkan mie itu mendingin dulu. "Maaf, mau minum apa mas?", wanita itu menawarkan menu minuman yang tadi belum sempat aku pesan. "air mineral saja mbak..." ucapku sambil mengembalikan menu. ku alihkan pandanganku ke gantungan bertuliskan "PGSD UNNES". aku masih asyik menatap kedua gantungan tersebut dan menikmati potongan memori mimpi saat itu.


"permisi mas.... maaf".


"letakkan saja di meja mbak" ucapku tanpa mengalihkan pandangan dari gantungan kunci di kedua tanganku. wanita yang berdiri disampingku masih berada disana dan tidak juga meletakkan minuman tersebut. "maaf mas...." ku letakkan gantungan kunci tersebut dan mengangkat wajahku ke wanita yang berdiri disamping meja. ternyata bukan pelayan tadi, wanita ini masih muda. dalam balutan kerudung merah muda polos, dia tersenyum dan berusaha menunjukkan sikap minta maaf karena mengganggu. tubuhnya dibalut jaket kampus kuning dengan emblem hitam disebelah kiri dada dan kaus hitam didalamnya. ini kan jaket mahasiswa UNNES. aku tidak mengenalnya, wajahnya terlihat asing. "owh, maaf. saya kira mbak-mbak tadi. iya ada apa mbak?". usianya terlihat muda mungkin sekitar 20 tahun.


akhirnya ku persilahkan dia duduk dan menunggu ia menyampaikan maksudnya. "maaf ya mas ganggu. nama saya dini. saya tadi tidak sengaja lewat meja mas dan melihat gantungan kunci di tangan mas. mirip dengan milik saya. klo boleh tau, mas dapat darimana ya?". aku terkesiap, tak sadar mataku sudah menatap gantungan kunci yang ada di meja. ku tatap kembali gadis yang duduk didepanku. "ee...ee.... owh, ini punya kamu?" tiba-tiba aku kehilangan kata-kata. "mmm... mirip sich mas. makanya saya nanya dulu. takutnya cuma mirip aja" dia meringis kecil sambil menggaruk kepalanya. "owh, ini saya temukan di bis waktu mau ke solo. ada seorang wanita yang menjatuhkannya saat turun di terminal salatiga" ucapku sambil berusaha meyakinkannya untuk bersikap santai. "ini memangnya punya kamu? karena seingat saya, waktu itu mbaknya beda. jadi saya agak bingung tadi".


dia pun kembali memperbaiki posisi duduknya. "owh, mungkin itu kakak saya mas. memang waktu itu kunci saya dibawanya waktu mengunjungi saya di semarang". "lalu inisial F ini nama kakak kamu?" ups, sepertinya aku terlalu lancang bertanya hal itu. tapi tak apalah, sudah kepalang diucapkan. "owh, itu inisial nama saya. lengkapnya Fina Andini. biasanya dipanggil dini tapi klo dirumah dipanggilnya fina. he.." dia masih menjawab sambil meringis. sepertinya memang dia gadis periang pikirku.


akhirnya terjawab sudah pertanyaan selama sebulan ini. setelah aku menyerahkan kunci beserta gantungan kunci berbentuk huruf F dan tulisan PGSD UNNES, dini menjelaskan potongan-potongan puzzle yang selama ini aku bayangkan. ternyata kunci ini milik adik wanita tersebut. adiknya adalah mahasiswi PGSD UNNES angkatan 2014 yang saat ini sedang menyelesaikan tugas akhir. saat itu kakaknya baru kembali dari bandung karena bekerja disana dan mampir di semarang untuk menjenguk adiknya.


"oiya, saya janjian dengan kakak saya disini. saya juga sedang menunggunya. dia juga sempat khawatir karena menghilangkan kunci berserta gantungannya. sebenarnya kunci itu hanya kunci lemari kost aja. tapi gantungan itu adalah pemberian dari almarhum ayah saya. makanya saat pertama melihat ada di tangan mas, saya langsung mengenalinya". kami masih mengobrol sebentar sampai akhirnya gadis itu berdiri dan berlari ke belakangku menuju eskalator. DEG.... wanita yang ku temui di bis waktu itu, wanita yang meninggalkan kunci dengan gantungan itu, wanita yang muncul di mimpi itu.


mereka berjalan menuju arah ku. wanita itu terlihat lebih cantik dari terakhir bertemu. wajahnya masih bulat cerah. kini dia memakai pashmina hijau tosca dan gamis hitam polos. adiknya memeluk lengan kakaknya sambil terlihat bercerita dan sesekali melihat ke arahku. aku pun berdiri dan mencoba tersenyum senormal mungkin meski rasanya wajahku sudah tidak karuan bentuknya. antara senang dan malu karena mengingat dia yang tertidur saat itu. aku mempersilahkan mereka duduk dan dini pun menjelaskan tentang aku yang sudah menemukan kunci tersebut. dia hanya tersenyum lalu mengatakan rasa terima kasih karena telah menyimpannya.


"oiya mas.... saya sampai lupa nanya nama mas. namanya siapa mas" dini bertanya sambil tetap memeluk lengan kakaknya. "oiya, saya juga lupa memperkenalkan diri. nama saya anto." saya pun memperkenalkan diri. "owh mas anto. oiya mas, ini kakakku namanya Rina. kak Rina waktu itu pulang ke salatiga karena minggu depannya akan menikah. oiya itu suami kak Rina" ujar Dini sambil menunjuk ke belakangku. aku mengalihkan pandangan ke meja di belakangku dan baru menyadari ada seorang pria yang juga duduk menatap kami. laki-lakiitu tersenyum ke arahku sambil mengangguk.


aku pun tersadar saat ada laki-laki yang tengah duduk sambil menyimak pembicaraan kami. setelah membalas senyuman laki-laki itu. aku pun kembali menatap kedua wanita didepanku. ternyata wanita itu sudah menikah, perjalanan kemarin adalah langkahnya untuk memulai kehidupan baru. bodohnya aku yang sudah membayangkan macam-macam dan berharap kisah seperti cerita fiksi terjadi padaku. akhirnya mereka pamit. setelah mengucapkan terima kasih yang kesekian kali, aku pun menggangguk dan mempersilahkan mereka pergi. ku tatap tiga sosok yang berjalan menjauh di depanku. gadis riang berjilbab merah muda itu sejenak berhenti dan menengok sekilas ke arahku dan tersenyum. aku pun tersenyum sendiri dan menertawakan imajinasi liarku selama ini.


"hahaha, gayamu tooo.... udah mikirin macam-macam saja". ku garuk kepalaku yang tak gatal. aku teringat mie goreng jawa yang sudah kepalang dingin itu. sepertinya pelayan tadi lupa membawakan air mineralku. akhirnya ku tandaskan rasa laparku dan segera bergegas meninggalkan tempat itu. kejadian ini akan selalu ku kenang. rasanya malu sendiri tapi tak apalah, mungkin aku terlalu banyak membaca novel.

28 April 2015

CERPEN - Kunci Hati


"hufff....." akhirnya datang juga yang dinanti. ku lihat sekilas suasana bis yang sudah hampir penuh. sebuah bangku kosong terlihat dibaris ke 4, seorang wanita setengah baya sedang sibuk dengan smartphonenya. aku pun meminta izin untuk duduk disebelahnya, dia memintaku duduk didekat jendela.


cuaca pagi ini mulai terasa panas. sudah sejak jam 6 pagi, aku menunggu bis. jika bukan karena semalam aku tidur terlalu larut, aku masih bisa mengejar bis pagi. namun ternyata lagi-lagi aku kesiangan. setelah menunggu hampir 1 jam, bis pun datang dari kejauhan. beberapa orang yang menunggu sudah tidak sabar menanti kedatangan bus tersebut.


bis rajawali jurusan semarang solo pun beranjak. rasa suntuk setelah bekerja selama sepekan, membuat aku memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan di kota solo. sekedar menikmati suasana baru dan mencari pengalaman baru. bis masih bergerak perlahan menyusuri jalan sambil sesekali menaikkan penumpang.


memasuki kawasan tugu, bis pun berhenti untuk menaikkan penumpang yang sudah menunggu. cukup banyak orang yang hendak berangkat menuju solo. entah tujuannya ke ungaran, salatiga atau boyolali. beberapa penumpang terus merapatkan diri ke belakang bis. bis sudah terisi penuh, seorang wanita berdiri di lorong tengah. akhirnya ku putuskan untuk memberi tempat dudukku, ia pun berterima kasih dan menempati bangku tersebut.


bis kembali melaju dan segera menggerung pelan memasuki tol. tak terlalu banyak penumpang yang berdiri, beberapa pria bergerombol di belakang bis. aku pun menatap barisan kendaraan yang saling mendahului. jalan tol terlihat cukup ramai dengan kendaraan pribadi. sesekali mobil dengan plat B melintas.


sekilas ku lirik wanita yang masih asik dengan smartphonenya, mungkin sedang asyik mengobrol di grup online. wanita yang menempati tempat dudukku lebih sibuk menatap pemandangan dari jendela. aku tak bisa melihat wajahnya, tangan kirinya menopang wajahnya yang menempel ke jendela. aku menebak usianya tak jauh dariku, sekitar 28 tahun. jilbab biru muda menutupi kepala hingga seluruh tubuhnya. sekilas aku menyadari tak baik menatap seseorang khususnya lawan jenis seperti itu. akhirnya ku alihkan wajahku dan melihat sekilas gerombolan pria di belakang yang cukup membuat kegaduhan.


bis pun sudah keluar dari tol dan memasuki kawasan banyumanik. dari sini, bis akan menyusuri jalan utama penghubung antara semarang dan solo melewati ungaran, salatiga, dan boyolali sebelum memasuki kota solo. penumpang semakin bertambah, beberapa penumpang wanita pun harus berdiri. aku hanya bisa menatap kasian melihat seorang ibu harus berdiri di area depan.


wanita berjilbab biru itu sepertinya sudah tertidur, aku menyibukkan diri mengecek pesan di grup whatsapp yang ramai dengan cerita liburan teman-temanku. diskusi seru di grup whatsapp mengalihkan keramaian bis yang terus bergerak. beberapa penumpang turun dan berganti dengan penumpang yang masih berdiri. ku lirik ibu yang berdiri di depan telah mendapatkan tempat duduknya.


tak terasa, bis sudah memasuki kota salatiga. wanita yang tadi sibuk bermain smartphone pun bangun dari kursinya dan segera turun. akhirnya aku bisa meluruskan kaki yang sudah berdiri sejak dari semarang tadi. wanita yang duduk didekat jendela pun memperbaiki posisinya dan sekilas kami saling melihat. aku pun tersenyum dan memberi anggukan kecil.


bis pun melintasi kota salatiga dengan perlahan, beberapa penumpang sudah bersiap untuk turun ketika kondektur bis meneriakkan "TINGKIR.... TINGKIR" yang merupakan nama terminal yang berada di selatan kota salatiga. wanita disebelahku pun meminta izin untuk keluar, ternyata ia turun di terminal ini. tak ada penumpang yang berdiri, akhirnya aku memindahkan posisi duduk berada di dekat jendela. ku lihat wanita itu menuju bangku terminal. bis tak lama berhenti, para penjaja makanan pun segera turun dan bis pun meninggalkan terminal untuk melanjutkan perjalanan.


saat aku sedang memperbaiki posisi dudukku, ku rasakan ada sesuatu yang menusuk dari lipatan kursi. ku rogoh diantara lipatan kursi dan ku temukan sebuah kunci dengan gantungan kunci berupa pahatan tembaga berwarna kuning keemasan berbentuk inisial huruf F dan sebuah gantungan bertuliskan PGSD UNNES. sepertinya ini milik wanita tadi. aku sedikit bimbang apakah harus turun dan segera kembali. mungkin dia sudah pergi. ku putuskan menyimpannya.


sepanjang perjalanan, dipikiran ku hanya seputar wanita berjilbab biru tadi. siapa dia, kunci apa ini, bagaimana menemukannya, apakah aku harus mengembalikannya. pikiran itu terus berputar dan imajinasiku terus berputar.


"mas.... mas..... mas anto.....". aku terkesiap, ternyata ada seseorang yang memanggilku. ku alihkan pandanganku dan menatap seseorang yang memanggilku. "loh... mbak. mmm.... oiya mbak. ini kuncinya ketinggalan. saya nemuin di lipatan bangku". ternyata dia adalah wanita berjilbab biru tadi. suasana bis sudah sepi dan sepertinya sudah berhenti di suatu tempat. wanita itu masih menatapku sambil tersenyum. dia pun mengambil kunci yang aku ulurkan kepadanya. dengan senyuman manis yang menghiasi wajah bulatnya, dia menyampaikan rasa terima kasih karena dia sangat khawatir ketika kehilangan kunci tersebut.


aku masih terpana menatap wajahnya. sejenak ku lihat wajahnya yang cerah dan ceria seperti sebuah bunga melati yang berada di lautan samudera berona biru muda. "terima kasih mas anto.... kamu sangat baik sekali....". ia pun segera berlalu dan menghilang dibalik pintu bis. aku tersadar dan terhenyak di kursi. tiba-tiba aku teringat, bagaimana dia bisa tahu nama aku? dan siapa namanya. aku bahkan belum sempat menanyakan siapa ia dan bagaimana ia tahu namaku. segera aku bangkit dari kursi dan mengejarnya. aku melompat dari pintu bis dan terjatuh di tanah lapang. tak ada siapa-siapa disana. kemana ia pergi dan dimana aku? tiba-tiba tanah bergetar dan aku pun terjerembab dan kepalaku pun terantuk benda keras.


bukk..... "aduh..." ku usap kepala yang terantuk benda keras. ku angkat kepalaku dan menatap seorang ibu yang duduk disebelahku dan bertanya bagaimana keadaanku. bis masih melaju cepat. ternyata aku tadi tertidur dan tak sadar sudah ada orang yang mengisi bangku kosong di sebelahku.


kakiku merasakan sesuatu yang menonjol di bawah kursi. ku temukan kunci itu tergeletak disana. mungkin terjatuh saat aku tertidur. "hmm... ternyata hanya mimpi.." gumamku kecewa. entah bagaimana caraku mengembalikannya, semoga tuhan memberikan aku kesempatan untuk bertemu dengannya suatu saat nanti.

baca kisah selanjutnya - Pintu Ikhlas

@ZuhriUtama
Semarang, 28 April 2015

20 April 2015

Negeri Para Bedebah - Tere Liye

dibeli pada ahad, 18 april 2015 @ Semarang
saya semakin menyukai karya-karya bang Tere Liye. setelah membaca novel Rindu, akhirnya saya menambah koleksi novel saya dengan judul Negeri Para Bedebah. sebenarnya sudah lama saya mengetahui novel ini namun waktu itu belum terlalu tertarik untuk memilikinya. namun akhirnya saya jadi penasaran dengan gaya bercerita bang Tere. saya pun menjadikan novel ini koleksi kedua saya.

Negeri Para Bedebah berlatar pada kisah tentang seorang laki-laki yang memiliki masa lalu yang kelam. berasal dari keluarga tionghoa yang kental akan darah pebisnis, laki-laki yang dikenal dengan nama Thomas akhirnya harus menghadapi masa lalunya kembali setelah bertahun-tahun mencoba melarikan diri.

Thomas adalah seorang konsultan keuangan professional yang dikenal mampu memecahkan masalah keuangan dengan solusinya yang cerdas. cerita dimulai saat ia harus menghadiri konferensi ekonomi dunia sebagai salah satu pembicara.

cerita pun berlanjut saat thomas kembali ke apartemennya dan mendapat kabar mengejutkan tentang permasalahan keluarganya yang semakin memburuk. dia harus memilih apakah harus menolongnya atau mengabaikannya. jika menolong, thomas harus siap menghadapi seseorang di masa lalunya yang telah menyebabkan kedua orang tuannya meninggal.

Tere Liye tidak sekedar bercerita fiksi dengan tempat-tempat yang kita kenal seperti jakarta, bali, singapore, hongkong tapi juga menyadarkan kita tentang masalah perekonomian yang saat ini sebenarnya berawal dari sebuah kertas.

jika anda menyukai cerita dengan aroma-aroma ekonomi dan uang, tak ada salahnya novel ini menjadi salah satu koleksi novel anda. selamat membaca.

Zuhri Utama
Semarang, 20 april 2015

18 April 2015

CERPEN : Inikah Cinta?

ini adalah lanjutan sebuah kisah. dari sebuah cerita singkat tentang salah sangka menjadi sebuah kisah cinta yang melewati batas dunia


INIKAH CINTA?



Seorang gadis pulang ke rumahnya. Didapatinya seorang pemuda memarkir mobil di depan rumahnya. Awalnya si gadis tidak curiga. Namun kecurigaan muncul ketika ternyata peristiwa itu berulang setiap harinya.


SI gadis diam-diam memperhatikan, tampaknya ia pemuda yang sopan, karena di mobil lebih banyak menundukkan pandangan. Ada rasa lain di hati si gadis, jangan-jangan pemuda ini sedang mencuri pandang terhadapnya, atau sedang mengamati gerak-geriknya lataran ingin melamarnya. Terselip rasa gelisah sekaligus bahagia


Jantung berdetak aneh, ketika kembali ia dapati pemuda itu memarkir mobil di depan rumahnya. Pikiranpun melayang, membayangkan ia segera menikah tanpa telat usia. Diam-diam ia juga

mengamati, “mobilnya memang sederhana...tapi tidak masalah, karena tampaknya ia pemuda baik, nyatanya lebih banyak ghadhul bashar (menundukkan pandangan) di dalam mobil.


Waktu berlalu, dan perasaan si gadis semakin terasa ada yg beda, hingga ia bertanya pada dirinya sendiri, “inikah cinta?”


Tapi ada rasa heran terselip di benaknya, jika memang pemuda itu menyukainya, kenapa tidak juga mendatangi ayahnya untuk melamar? Padahal lama sudah pemuda itu memperhatikannya? Apakah ia takut diusir ayahnya karena mobil bututnya?


Tapi melihat keseriusannya, si gadis percaya bahwa pemuda itu mencintainya


Bagimana tidak, berjam-jam lamanya ia berada di depan rumahnya, saat si gadis pergi, kemudian masuk rumah dan hendak pergi... si pemuda tetap dalam posisinya. Bisa jadi pemuda itu sering mencuri pandang terhadapnya. Sepertinya si gadis tidak bisa bersabar lagi menunggu lebih lama. Karena hari-hari berlalu ia menunggu belum juga ada perkembangan.


Hingga suatu hari ia bulatkan tekad dan keberaniannya untuk menyambangi si pemuda itu. Jika memang ingin menikahinya, agar segera berbuat sesuatu, mengetuk pintu, menemui orang

tua dan kemudian melamarnya... Pelan namun pasti, si gadis mendekati mobil itu, sementara si pemuda masih menunduk di dalam mobilnya seperti biasanya.


Dengan menahan dag..dig..dug.., si gadis bertanya,

Gadis: “Maaf..., boleh tahu, kenapa Anda sering memarkir mobil di depan rumah kami?”

Pemuda : “WIFI di rumah Mbak tidak diberi password, jadi saya numpang internetan di sini setiap hari.”

Gadis : “Apa....???”

# hadeh!..., pantesan ghadhul bashar, orang mantengin laptop.


-- CONTINUED by @ZuhriUtama --


Ketika menaikkan pandangan. Pemuda itu terdiam. Ternyata selama ini ia luput melihat ad seorang wanita dirumah itu. ia terlalu khusyuk menatap laptopny hingga tak menyadari. Seorang wanita sering melihatny di dalam mobil.

Ikhwan itu pun meminta maaf lalu pergi

keesokan harinya, seseorang mengetuk pintu rumah tersebut. Sang wanita berharap itu pemuda yg sudah sepekan ini tak lagi menumpang internet drumahnya.

Entah knp bgitu ia berharap pemuda itu kembali lg. Ia pun segera turun dr kamarny di lantai dua. Melangkah cepat melompati dua anak tangga sekaligus. Hingga ia pun tiba di depan pintu

Sedikit terengah2, sang wanita merapikan jilbabnya. Tak lupa ia atur nafas dan memutar kenop pintu yang tiba2 terasa dingin saat menyentuhnya

"loh, ayah?". Koq sudah pulang jam segini. Aq kiraa......"

Ia tak meneruskan kata2nya. Sang ayah menatap heran putrinya yang biasanya sibuk di kamar kini membukakan pintu.

"kamu jg tumben. Semangat betul menyambut ayah. Trus kenapa jilbabmu rapih betul"

"oiya. Memangny qm kira siapa?. Qm lg nungguin temen qm? Jam segini jg qm tumben ad drumah."

Ayahny berkata sambil.melangkah masuk dan meletakkan tas kerja di sofa ruang tamu. Tak dilihatny wajah putriny yang berusaha menutupi salah tingkahny.

Sejenak ia melirik keluar pintu. Berharap mobil toyota crown coklat itu terparkir di seberang jalan dengan pemuda yang khusyuk menundukkan pandangan. Nihil..

kini sudah sebulan sejak terakhir ia menegur pemuda itu. mungkin ia terlalu keras menegurnya saat itu. berbagai pikiran muncul di kepalanya. tapi dengan cepat dihilangkan pikiran itu. ia masih sibuk berkutat dengan pekerjaan di kantor yang semakin menumpuk. ini akhir bulan, kesibukan menjelang laporan akhir bulan mengharuskannya tinggal lebih larut di kantor.

sudah pukul 7 malam ketika ia sampai di jalan masuk menuju ke rumahnya. ia pun dikejutkan dengan sebuah mobil yang terlihat sama sewaktu ia memergoki pemuda tersebut. perlahan ia berjalan sambil memasang kedua matanya lekat-lekat berharap menemukan pemuda tersebut didalam mobil. tapi tak ada siapa-siapa. "hmm, mungkin hanya mirip saja" pikirnya.

"assalaamu'alaikum..." ucapnya sambil membuka pintu yang memang tidak pernah dikunci kecuali semua penghuni sudah lengkap di dalam rumah. ia pun melepas sepatu flatnya dan meletakkan di rak sepatu di belakang pintu. saat ia masuk ke ruang tamu, pemuda itu sedang duduk bersama dengan ayahnya. sibuk berdiskusi serius namun ia masih belum menangkap isi percakapan tersebut.

"alya, sudah pulang rupanya" sang ayah menegurnya saat menyadari ada seseorang datang. "maaf, ayah tidak sadar saat kamu pulang. ayah sedang berdiskusi dengan tamu. dia datang kemari untuk meminta maaf atas kejadian sewaktu kamu memergokinya sedang memakai wifi rumah kita. bisa duduk sebentar nak dsebelah ayah?"

pemuda itu menunduk diam. secangkir teh sudah tersisa sedikit di dasar cangkir. sepertinya ia sudah sejak tadi sore berada disini. alya pun duduk dan meletakkan tasnya di samping sofa.

"nak, benar kamu sering melihat pemuda ini di depan rumah kita sambil menunduk diam didalam mobilnya?" ayahnya mencoba mengkonfirmasi perihal kejadian yang sudah dijelaskan pemuda itu sore tadi. "iya, ayah. awalnya aku mengira dia memiliki maksud tertentu dengan rumah kita." alya menjawab singkat sambil menunduk.

"nah, nak heru. coba kamu sampaikan lagi sebenarnya apa yang kamu lakukan selama ini didepan rumah kami sambil menggunakan wifi kami?" sang ayah pun memanggil bi sum yang membantu dirumah untuk mengisi ulang cangkir teh yang sudah hampir kosong itu.

"saya minta maaf sebelumnya kepada bapak dan keluarga. seperti yang sudah saya jelaskan. saya tidak ada maksud buruk. kebetulan saja saya waktu itu menemukan jaringan internet tanpa password yang kemudian saya manfaatkan. bukan untuk hal macam-macam, sungguh. saya tidak bohong". pemuda bernama heru itu tetap menunduk sambil sesekali memperbaiki posisi duduknya. pemuda berumur 24 tahun itu biasa saja. dengan kaos berkerah warna biru polos dan celana jeans yang mulai pudar warnanya.

"tidak apa2, nak heru. teruskan saja" sang ayah dengan sabar menyimak penjelasan pemuda tersebut agar putrinya paham atas maksud kedatangan pemuda tersebut

"sebenarnya, saya adalah mahasiswa semester akhir di universitas swasta. karena sudah tidak ada kegiatan kuliah, saya pun bekerja paruh waktu sebagai supir pribadi. beruntungnya, majikan saya berbaik hati meminjamkan saya sebuah laptop untuk saya agar bisa mengerjakan tugas akhir kapanpun. mobil pun beliau percayakan kepada saya untuk dipakai saat sedang tidak mengantar beliau. suatu hari, mobil saya mogok di depan rumah bapak. sambil menunggu montir khusus mobil tersebut, saya pun mengisi waktu mengerjakan referensi untuk tugas akhir saya. ternyata wifi di rumah bapak tidak dikunci, saya menyadari ketika melihat ada antena pemancar di atap rumah bapak. akhirnya setiap kali selesai mengantar majikan saya ke kantor, saya mampir ke depan jalan rumah bapak untuk mengerjakan tugas akhir saya". heru tak menyadari bahwa perbuatannya selama ini adalah perbuatan mencuri. ia pikir tidak akan sampai seperti ini kejadiannya.

pemuda itu pun mengangkat wajahnya dan melihat sekilas wanita yang dulu pernah menegurnya. sekedar meyakinkan bahwa perkataannya itu jujur. alya pun diam, entah apa yang harus ia jawab. akhirnya keluar juga sepatah kata dari bibirnya "saya juga minta maaf telah menegur anda waktu itu. saya tidak bermaksud kasar. hanya ingin memastikan saja jika memang anda tidak bermaksud apa-apa". alya menghela nafas, ia pun lega telah menyampaikan permintaan maaf atas sikap kasarnya waktu itu.

"baiklah, karena alya sudah mendengar cerita sebenarnya dan sudah tidak ada masalah diantara kita. sebaiknya kita sudahi saja percakapan ini. sudah cukup larut. nak heru pun sepertinya sudah harus beristirahat". "tapi pak..." heru sontak berbicara sebelum ia diminta pamit pulang. "tapi saya merasa bersalah jika tidak mengganti biaya penggunaan internet bapak selama sebulan kemarin. saya akan menggantinya ketika saya mendapat gaji saya bulan ini. saya janji pak." heru pun berusaha meyakinkan ia mampu menggantinya.

"sudah tidak usah nak heru. bapak dan alya sudah ikhlas. wong cuma internet saja. daripada tidak ada yang pakai. alya juga hanya memakai saat pulang kerja atau saat akhir pekan.. sudah, nak heru pakai saja untuk biaya kuliahnya". akhirnya heru pun pamit pulang sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih. ia pun diizinkan untuk menggunakan internet jika sedang membutuhkannya.

alya pun bergegas naik ke atas dan masuk kamar. tubuhnya lelah, tapi beban di hatinya kini sudah ringan. tak ada rasa berat hati terhadap pemuda itu lagi. alya pun mendengar deru mobil di luar yang menjauh dan hilang dalam kegelapan malam.

tugas akhir heru berjalan lancar. sebentar lagi waktu sidang semakin dekat. heru semakin fokus menyelesaikan tugas akhirnya. referensinya sudah cukup lengkap sehingga hanya tinggal menyelesaikan penulisan saja. heru pun semakin dipercaya oleh majikannya sebagai supir pribadi. jika lulus nanti, heru dijanjikan posisi di kantor majikannya.

alya sendiri sudah melupakan pemuda itu. sesekali memang kadang teringat. tapi kesibukan kantornya membuat ia tenggelam dalam kertas-kertas laporan. dua bulan pun tak terasa. alya pun sebentar lagi akan dipromosikan jabatannya menjadi manager.

heru dan alya tak menyangka bahwa mereka akan bertemu kembali di tempat yang tidak disangka.

sore ini matahari masih teras panas. warung kopi yang tak jauh dari wilayah perkantoran kota itu pun tak luput dari sorotan matahari yang masih terasa menyengat. terpal biru yang menaungi bagian depan warung kopi tak mampu menahan hawa panasnya. heru sedang asyik menyeruput kopi sambil menunggu jam pulang kantor majikannya. disebelahnya tersusun 4 jilid hardcover tugas akhir yang akan dserahkan besok untuk syarat sidang.

tiba2 terdengar teriakan dari arah pertigaan jalan tak jauh dari warung kopi. seseorang sedang berteriak kepada seorang pria berambut gondrong yang berlari ke arah warung kopi sambil membawa sebuah tas hitam. sang korban penjambretan tersebut pun berusaha mengejar penjambret tersebut meski ia kalah stamina.

heru pun bergegas menolong bersama para pelanggan warung kopi yang mayoritas supir dan office boy perkantoran sekitar. pejambret tersebut melewati warung kopi dengan cepat sebelum heru sempat mencegatnya. heru sekilas sepertinya mengenali korban jambret tersebut tapi ia tidak berpikir lama, segera dilarikan kakinya mengejar penjambret tersebut. ditinggalkan begitu saja tugas akhir yang sudah tersusun rapi di warung kopi.

penjambret itu cukup gesit. berlari sambil berkelit diantara barisan mobil yang terparkir paralel di pinggir jalan. kesemrawutan tata parkir di daerah tersebut menjadi celah bagi penjambret tersebut untuk melarikan diri. heru pun mengejar tak kalah sigap. tubuhnya memang sudah terbiasa melintasi rintangan saat kecil dulu. ia besar di sebuah desa yang bertepian dengan hutan.

supir dan yang lainnya sudah menyerah. heru pun sekilas melihat celah untuk bisa memotong larinya sang penjambret. heru melompati selokan selebar setengah meter kemudian menjejak disebuah tumpukan peti yang biasa digunakan kantor ekspedisi untuk membawa paket kiriman. sang penjambret telah berbelok ke kanan di belokan depan. "masih sempat" ujar heru dalam hati sambil berusaha meraih ujung pagar pembatas yang membatasi area perkantoran dengan perkampungan di belakangnya. sang penjambret berusaha menghilang melalui gang kecil yang tembus ke belakang area perkantoran yang merupakan perkampungan penduduk.

heru tiba diatas pagar beton.dilihatnya penjambret itu berlari dengan cepat. ia tepat waktu. saat penjambret itu tak sadar melewati heru yang berdiri diatas pagar beton, heru pun melompat dan menyergap penjambret tersebut yang tak menyangka akan ada orang dari atas pagar. mereka berdua berguling-guling dan menabrak warung kecil yang hendak dirapikan pemiliknya.
penjambret itu pun terbujur diam sambil merintih karena heru sudah menindih dan mencengkram tangan penjambret tersebut. beberapa warga pun menolongnya dan menggiring pria tersebut ke pos keamanan sekitar. heru mengambil tas hitam tersebut lalu segera kembali ke warung kopi untuk mengembalikan tas tersebut.
heru pun bergegas mengembalikan tas hitam tersebut. ternyata itu adalah milik ayahnya alya. heru pun segera memberikan tas hitam tersebut yang terlihat kotor karena sempat terjatuh tadi. baru saja heru hendak menanyakan kabar, terdengar suara gaduh di mulut gang tempat penjambret tadi berbelok. ternyata penjambret itu berontak kemudian seorang rekannya datang dengan motor mencoba menabrak orang-orang yang hendak membawa jambret tersebut ke pos keamanan.
jambret tersebut segera melompat ke motor lalu mengeluarkan pisau lipat dari sakunya. penjambret dan rekannya melajukan motornya dengan cepat ke arah heru dan ayahnya alya. penjambret itu merasa marah dan kalah dan ingin membalas dendam. heru yang menyadari hal itu segera menarik tubuh ayahnya alya yang hampir tergores ayunan pisau sang penjambret.

nyaris, pisau itu hanya menggores tas hitam yang dipegang oleh ayahnya alya. motor penjambret itu oleh lalu meluncur tak terkendali kemudian menghantam seseorang yang baru saja keluar dari kantor. kedua penjambret itu terluka parah. motornya terlempar dan meluncur ke arah jalan. seorang korban ikut terkapar dipinggir jalan.

setelah shock oleh kejadian tersebut. heru dan ayahnya alya bergegas menghampiri korban yang terkena tabrakan tadi. ternyata itu adalah alya. ia memang berencana untuk makan malam dengan ayahnya sore ini. ayahnya tadi sedang menunggu alya keluar kantor ketika ada penjambret mengambil tas milik ayahnya. ayahnya alya pun segera lari dan merangkul putrinya. entah apa salahnya, hari ini cobaan datang bertubi2.

heru terhenyak. ia menatap alya yang bersimbah darah. dari betis kanannya, terlihat tulang putih yang mencuat keluar dari darah yang mengalir. heru pun bertindak cepat, mobil majikannya terparkir tak jauh dari sana. setelah tiba di posisi dekat alya, heru pun keluar dan meminta bantuan orang-orang memasukkan alya ke mobil untuk dibawa ke rumah sakit.

sore ini, akan menjadi moment yang akan dkenang oleh mereka.

setiba di rumah sakit, tim UGD rumah sakit segera melakukan pertolongan pertama untuk mencegah darah keluar terlalu banyak dari korban. heru menelpon majikannya dan meminta izin telat menjemput setelah menceritakan kejadian tadi, majikannya pun menyuruh heru tetap di rumah sakit dan majikannya pulang dengan taxi.

ayahnya alya duduk terdiam di lorong sambil memeluk tas hitam yang sudah setengah robek tersebut. sesekali matanya melirik lampu yang berada diatas pintu UGD. proses pertolongan masih diupayakan oleh tim dokter. seorang perawat yang baru keluar dari ruang UGD menjelaskan singkat bahwa kondisi alya kritis. kaki kanannya patah. ia membutuhkan tranfusi darah segera.

heru pun duduk disebelah ayahnya alya dan mencoba menenangkannya. ia pun tak habis pikir kenapa ia harus kembali bertemu alya dalam keadaan seperti ini. ia memang sempat berpikir untuk datang ke rumah alya, sekedar silaturahim. namun pekerjaan dan tugas akhirnya menyita waktunya belakangan ini. ia juga tak sadar bahwa alya bekerja tak jauh dari kantor majikannya.

ayahnya alya pun bercerita. sejak kecil, alya dibesarkan olehnya sendiri. ibunya meninggal saat alya baru berusia 2 tahun, tepat ketika alya menyelesaikan ASI ekslusifnya. bi sum menggantikan ibunya merawat alya sedangkan ayahnya alya berusaha tegar untuk merawat dan membesarkan alya. alya adalah anak yang ditunggu selama 10 tahun pernikahan. ketika alya lahir, ia sangat mirip dengan ibunya. ayahnya pun menjadi terobati rindunya akan istrinya setiap kali menatap wajah alya.

akhirnya lampu diatas pintu UGD pun padam. seorang dokter keluar lalu menanyakan siapa keluarga dari korban. ayahnya alya pun berdiri dan bertanya kondisi putrinya saat ini. sang dokter pun membawa mereka ke ruang dokter. heru menunggu diluar ruangan. percakapan didalam bisa ia dengar. kondisi alya sangat mengenaskan. meski kondisi kritisnya sudah lewat, alya masih harus dirawat intensif. heru tidak menangkap percakapan selanjutnya. ayahnya alya keluar ruangan dengan diam seribu kata. tas hitamnya direngkuh dengan keras hingga memutih kulit jemarinya.

heru tak bisa berbuat apa2. ayahnya alya meminta heru pulang. alya sudah dipidahkan ke ruang ICU. ayahnya sudah menghubungi bi sum untuk membawa pakaian ganti dan keperluan selama di rumah sakit. heru pun memberikan waktu dan meminta izin pulang. ia baru menyadari badannya terasa sakit akibat melompat dari pagar tadi. bajunya sobek dan ia tidak tahu nasib tugas akhirnya yang tertinggal di warung kopi tadi.

sudah seminggu sejak kejadian tersebut. heru belum sempat menengok kembali kondisi alya. bukan tidak mau tapi ia tidak sempat. kesibukannya mempersiapkan sidang sangat menguras waktunya. diantara kesibukan bekerja dan sidang, heru menyempatkan mampir ke rumah alya. bi sum yang hendak keluar rumah pun mengatakan bahwa alya masih dirawat.

heru akhirnya tinggal menunggu jadwal sidang. ia pun kini punya waktu untuk menengok alya. berdasarkan info dari bi sum, alya sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa. paviliun anggrek kamar 103. setelah mengetuk pintu, ayahnya alya muncul dari balik pintu. wajahnya sudah tidak murung. lebih cerah namun masih ada sedikit kesedihan di dalam matanya.

alya tergolek lemas di kasur. jilbab hijau muda yang menutupi kepalanya tergerai diatas tubuhnya yang tertutup selimut. masih ada perban di pelipis kanan matanya namun wajah cerianya masih terpancar. bak bidadari yang sendu. alya sedikit tersenyum kepada tamu yang baru datang tersebut. ia akhirnya bertemu kembali dengan pemuda itu. ia sempat mendengar suara heru saat menolongnya yang bersimbah darah di pinggir jalan. pemuda itu sudah menolong ayahnya dan dirinya.

heru tak bisa menahan haru dalam dirinya. ia tak menyangka akan melihatnya dalam keadaan seperti ini. akhirnya ia pun menyerahkan buah yang ia bawa kepada bi sum. ayahnya alya pun mengajaknya duduk di sofa dalam ruang rawat kelas 1 tersebut.
"maaf ya pak. saya baru sempat menengok lagi. kemarin saya sibuk mengurusi persiapan sidang tugas akhir saya. untung saja tugas akhir yang sudah di jilid kemarin masih disimpan oleh pemilik warung. seminggu ini saya harus sudah mendaftar diri untuk jadwal sidang. dan juga mengantar majikan bekerja" heru membuka percakapan terlebih dahulu. ayahnya alya tersenyum dan memakluminy.

pemuda yang telah menolongnya itu terlihat kurang tidur. ayahnya alya pun mengatakan bahwa alya baru 2 hari ini dipindahkan dari ICU ke ruangan ini. bi sum juga sudah bercerita tentang heru yang datang ke rumah. "pak, ada yang ingin saya bicarakan" heru kembali membuka percakapan. sudah lama ia memikirkannya. ia tahu, alya memang lebih tua 3 tahun darinya. namun itu tidak menjadikan alasan baginya untuk mengungkapkan hal tersebut.

heru pun mengungkapkan rasa kagumnya kepada alya yang selalu menjaga diri. selama ini ia memang berkeinginan menikah, namun kondisi keluarganya dan statusnya sebagai mahasiswa yang harus berusaha membayar kuliah sendiri membuat ia selalu urung untuk melakukannya. awalnya ia tidak yakin akan diterima oleh keluarga alya, namun ia tidak mau menghilangkan kesempatan ini.

alya adalah wanita yang dicarinya. wanita yang menjaga dirinya dan dewasa. ia melihat bahwa saat terakhir ia bertemu denganny untuk menyampaikan maaf, alya pun sepertinya memiliki perasaan yang sama. tapi alya bisa menahan dirinya dan tetap menjaga pandangannya. heru pun teringat akan firman allaah pada surat an-nuur ayat 31

"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung."

ayahnya alya terdiam. ia menunduk dan hanya menatap lantai dibawahnya. bi sum pun menitikkan air mata. alya memalingkan wajahnya. suasana di ruangan tersebut tiba-tiba redup. laksana ada awan gelap masuk ke dalam ruangan dan menyelimuti penerangan didalamnya. heru pun merasa bersalah. mungkin ini bukan waktu yang tidak tepat. heru pun mencoba meminta maaf tapi ayahnya alya meminta ia diam. ayahnya alya menarik nafas dalam. "nak heru, bapak merasa senang dengan permintaan heru tersebut tapi bapak tidak mau membuat heru kecewa. alya sekarang sudah tidak sama dengan alya yang dulu. bapak takut kamu tidak bisa menerimanya"

heru bingung, alya adalah wanita yang sempurna baginya. dia masih terlihat sama dengan alya yang ditemuinya beberapa bulan lalu. ia masih nampak terlihat laksana sumber cahaya yang saat ini sedang dirundung awan gelap. dan ia ingin menjadi angin gunung yang mehilangkan awan gelap itu sirna dari wajahnya.

"nak heru, alya sudah tak lagi seperti yang dulu. kaki kanannya yang terluka semakin buruk dan tidak bisa diselamatkan. kakinya harus diamputasi, putriku mungkin sudah terlihat tidak sempurna bagimu nak. bapak tetap menyayangi alya karena ia putri bapak. tapi kamu nak, kamu mungkin bisa mencari wanita lain yang lebih sempurna bagimu. maafkan bapak. alya sendiri pun sebenarnya tadi tak mau ditemui olehmu saat bi sum mengatakan melihatmu tadi di lobi. namun bapak tak tega menolak orang yang sudah menolong keluarga kami.

heru pun terhenyak. ia tak menyangka bahwa bidadarinya telah kehilangan kakinya. ia sudah tak sempurna fisiknya. heru terdiam, wajahnya diam menahan amarah. kenapa harus ini yang terjadi. kenapa harus alya yang tertabrak. kenapa tidak dia saja yang tertabrak saat itu. kenapa ia tidak menemaninya selama di ruang ICU. kenapa.

"pak, saya mencintai anak bapak bukan karena kesempurnaan fisiknya. alya memang wanita yang cantik. tapi kecantikan akhlaknya lah yang menjadikan saya mencintainya. saya memang bukan laki-laki sempurna bagi alya tapi saya akan selalu berusaha menjadi yang sempurna bagi alya. saya akan menerima ia bagaimanapun kondisinya. majikan saya sudah menjanjikan posisi sebagai staff di kantornya. memang bukan posisi tinggi tapi jika saya berusaha, dalam 1-2 tahun saya sudah bisa menjadi kepala bagian. sidang saya akan dilaksanakan pekan depan. setelah sidang, saya bisa langsung bekerja dan mampu memberi nafkah untuk anak bapak. ia tak perlu bekerja, biar saya yang merawatnya. saya akan menyediakan kebutuhannya. cukuplah ia menjadi pelita bagi saya agar terus berusaha menjadi imam yang baik baginya"
alya sudah tak bisa membendung air matanya. ayahnya alya pun tak menyangka bahwa pemuda yang dulu terlihat seperti mahasiswa yang tak memiliki apa2, tak terlihat dari kalangan berada itu mampu menerima anaknya dengan kondisinya seperti ini.

ayahnya alya pun meminta waktu memikirkannya. heru pun pamit pulang setelah sekilas menatap wajah bidadarinya masih berpaling dan menahan air mata yang tak terbendung. ia tak menyampaikan apa2. bi sum mengantarnya keluar ruangan. heru pun pulang dalam keadaan terguncang.

kini hari yang dinanti, heru kembali sibuk mempersiapkan sidangnya. tak ada kabar berita dari keluarga alya. sempat ia datang ke rumah sakit, ternyata mereka sudah pulang. namun beberapa kali heru mendatangi rumahnya, tidak ada tanda-tanda kehidupan didalamnya. heru pun memfokuskan diri menyiapkan sidangnya. ia harus lulus dengan nilai terbaik.

seusai sidang, heru mendapat tepukan meriah dari penguji. materi tugas akhirnya sangat menarik. permasalahan yang ia angkat memang bukan sesuatu yang baru tapi cara ia memaparkan solusi terhadap masalah tersebut telah mengejutkan penguji. metodenya sederhana namun sangat efektif. heru pun lulus dengan nilai cumlaude.

ketika keluar ruangan, heru terkejut. ayahnya alya sudah berada didepan ruangan beserta dengan bi sum dan alya yang duduk di kursi roda. majikannya juga berdiri tak jauh dari sana. ternyata keluarga alya mendatangi rumah majikannya dan bertanya dimana heru. majikannya pun tau bahwa heru sedang menjalani sidang hari ini. keluarga alya baru kembali dari rumah rehabilitasi. mereka membawa alya ke rumah peristirahatan di pegunungan agar lebih cepat pulih. alya masih sulit menggunakan tongkat penyangga tapi kondisinya membaik.

ayah alya menyampaikan selamat kepada heru. majikannya juga segera memberikan selamat dan mengatakan bahwa heru bisa memulai bekerja pekan depan. alya tersenyum menatap heru, ia telah menyetujui permintaan heru untuk meminangnya. ayahnya alya turut berbahagia dan mengatakan pernikahannya bisa diadakan segera setelah alya sudah mampu menggunakan tongkat penyangga.
-- THE END --

16 April 2015

Novel Rindu - Tere Liye

bought on 11 april 2015 @ semarang

saya sudah mulai jauh berkurang dalam mengkonsumsi buku fiksi ketimbang buku-buku pengembangan diri maupun teknik. saya sudah cukup lama mengenal tulisan-tulisan karya bang tere. saya ingat sekali saat pertama membaca novel "Bidadari-bidadari Surga". meski dulu belum tau bahwa penulisnya adalah tere liye.

kesadaran saya akan karya-karya beliau adalah saat membaca seri anak-anak mamak. pukat, burlian, erliana dan amelia. kemudian buku-buku lain yang mengambil setting lebih nyata maupun konflik yang lebih berat.

novel Rindu adalah novel karya bang tere yang mengambil setting cerita pada masa musim haji di nusantara pada zaman sebelum kemerdekaan. tahun 1938, para calon haji dari nusantara masih menggunakan kapal uap untuk pergi ke makkah. ada puluhan ribu orang yang berangkat dengan menggunakan jasa kapal uap. ternate, makassar, surabaya, semarang, batavia, lampung, bengkulu dan aceh adalah salah satu kota dengan pelabuhan yang menjadi tempat singgah kapal uap pembawa calon jamaah haji.

dilatarbelakangi sejarah saat masa-masa perlawanan kemerdekaan, 5 manusia dalam satu kapal yang sama membawa 5 pertanyaan penting dalam hidup mereka. mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang selalu menaungi hidup mereka. tersimpan didalam relung-relung hati dan berharap menemukan seseorang yang bisa menjawabnya.

sebaiknya anda segera membaca novelnya. bang tere selalu bisa menggambarkan bentuk perasaan cinta dengan cara yang elegan, bisa menyampaikan pesan bagi diri kita melalui kisah-kisah fiksi didalamnya. selamat menikmati