Pages

Ads 468x60px

23 March 2015

Berubah itu memang aneh

Semua orang mau BERUBAH, tapi tidak semua orang mau DIUBAH
gambar : growglowgo.wordpress.com

kutipan kata dari pak Rhenald Kasali dari bukunya yang berjudul Let's Change. jika bicara soal berubah (dalam arti sikap. bukan berubah macam baja hitam RX) mungkin sudah puluhan kali saya mencoba. setiap kali berusaha memperbaiki diri (tentunya setiap orang ingin berubah menjadi lebih baik bukan?) selalu saja berakhir dengan kembali menjadi orang yang sama.

ternyata benar sebuah kalimat yang berkata "kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda". karena terlalu seringnya saya gagal menjadi orang yang lebih baik, saya bosan juga akhirnya. selalu saja gagal dan akhirnya mengulangi perbuatan yang sama. saya pun sudah bosan dengan kegagalan itu.

bicara soal perubahan, memang berubah itu aneh. bukan cuma diri kita, orang lain disekitar kita pun akan merasakan keanehan atas perubahan sikap kita. saya sendiri sampai ditanya "kamu sehat?" hanya karena saya mengubah panggilan kepada kawan saya. itu baru satu perubahan tapi orang lain sudah merasa aneh. bagaimana jika sikap saya berubah 180 derajat? wah mungkin bisa dibilang gila saya. hehehe

tapi kembali teringat kalimat lain "alah bisa karena biasa". jika saya konsisten terhadap sikap saya yang baru, mereka akan terbiasa dengan sendirinya dan akan mengubah pandangannnya dengan sikap saya yang baru. jadi saya tidak perlu khawatir terhadap tanggapan kawan saya. selama saya berubah sikap menjadi lebih baik (in syaa allaah).

seperti ulat yang berubah menjadi kupu-kupu. rasanya tidak nyaman harus membungkus diri dengan lapisan yang menyelimuti diri dalam gelap. tidak makan dan hanya menggantung terbalik di batang pohon. tapi sang ulat bersabar, ia tau bahwa rasa tidak nyamannya hanyalah sebentar karena ia akan menjadi sesuatu yang lebih baik selamanya. lebih baik mengorbankan diri dengan rasa tidak nyaman selama beberapa waktu tapi akan menuai hasil untuk waktu yang lama. itulah arti dari perubahan.

ada kalimat lain yaitu "no pain no gain". tidak ada yang kita dapatkan tanpa rasa sakit. setiap hal yang ingin kita dapatkan harus dilalui dengan rasa sakit. sakit di badan, sakit di perasaan, sakit di hati dan rasa sakit lainnya yang sebenarnya sedang memperbaiki diri kita yang sakit agar menjadi pribadi yang sehat kembali. nikmati rasa sakitmu dan kamu akan dapatkan apa yang tidak orang lain rasakan sakitnya.

meninggalkan zona nyaman itu memang tidak menyenangkan. seperti setiap pagi saat bangkit dari kasur yang nyaman untuk membuka mata dan mulai kegiatan pagi, rasanya memang tidak menyenangkan tapi karena dengan bangun dari tempat tidur kita akan mendapatkan sesuatu yang baru maka kita akan terpaksa bangun dan segera bersiap. jadi sebenarnya setiap hari kita selalu dilatih untuk keluar dari zona nyaman dan ternyata kamu punya kemampuan untuk itu.

selamat berubah. menjadi pribadi yang lebih baik setidaknya untuk diri kita sendiri. :)

22 March 2015

Tempat-tempat wisata di kota Tuban part 2

awalnya kami berencana melanjutkan ke wisata pantai, tapi setelah dari goa akbar (baca kisahnya di Tempat-tempat wisata di kota Tuban part 1) saya penasaran dengan makam sunan Bonang. karena Tuban memang terkenal dengan wisata ziarah makam sunan Bonang. saya pun mengajak mas edo untuk mampir sebentar ke makam sunan Bonang.

Alun Alun Kota Tuban
keluar menuju jalan raya, parkir bis wisata sunan bonang tepat berada diseberangnya. awalnya kami pikir makamnya pun ada disitu. setelah bertanya, ternyata makamnya masih harus naik becak lagi. karena kami menggunakan motor, kami pun segera menuju ke alun-alun kota Tuban. sepanjang jalan dari parkiran bis ke alun-alun dipadati oleh para becak yang dipenuhi peziarah yang ingin berziarah ke makam sunan Bonang.

masjid agung tuban
setibanya di alun-alun, para peziarah sudah bergerak menuju makam sunan Bonang. kami pun parkir di depan masjid agung tuban. di depan halamannya terdapat payung raksasa seperti di masjid nabawi madinah namun lebih kecil. kami pun mengikuti arus peziarah yang masuk melalui jalan di samping masjid agung.
arus peziarah menuju makam
 jalan kecil ini berkelok melewati lorong sempit hingga akhirnya kami sampai di halaman kedua komplek makam sunan Bonang. ternyata kami salah pilih jalan masuk. sebenarnya ada jalan yang lebih lebar. tapi tak apalah, kami pun segera menuju halaman ketiga atau area utama makam sunan Bonang. sebelum masuk, kami diminta melepas sendal. beberapa orang menawarkan kantong plastik untuk menyimpan sendal dengan harga seikhlasnya.
halaman kedua area makam sunan Bonang
kami pun memasuki area utama melewati gapura dengan dinding yang dihias dengan keramik berkaligrafi bahasa arab. memasuki ruang makam, semakin banyak peziarah dan di ruang utama terdapat bangunan beratap yang merupakan makam dari sunan Bonang. kami hanya melihat sebentar dan kemudian segera meninggalkan area makam karena waktu semakin sore.
menuju halaman ketiga/area utama makam sunan bonang
makam sunan Bonang
kami pun bersegera menuju destinasi selanjutnya yaitu wisata pantai. kami segera meninggalkan kota tuban dan melewati jalur pantura menuju arah barat (arah utara lebih tepatnya). di tengah perjalanan tiba-tiba motor yang kami naiki terasa bergoyang yang menunjukkan bahwa ada ban yang bocor. setelah menepi dan mengecek, ternyata ban belakang motor bocor. untungnya seorang ibu mengatakan ada tempat tambal ban tak jauh di depan dari tempat kami berhenti.
mencari tempat tambal ban di jalur pantura
setelah menunggu setengah jam, akhirnya motor siap dijalankan kembali. waktu sudah menunjukkan pukul 5 lewat. semoga masih keburu untuk melihat sunset. kami pun bergegas. setelah melewati gerbang masuk PLTU, semen gresik dan holcim (sepertinya kami terlewat), saya pun bertanya ke mas Edo dan ternyata dia juga belum pernah kesana. hahaha. akhirnya saya mengecek Google Maps dan ternyata memang kami terlewat jauh.

waktu sudah pukul setengah 6 sore, berdasarkan petunjuk google maps, kami pun melaju memburu waktu. matahari di ufuk barat sudah mulai memerah.

pantai yang kami tuju bernama Pantai Meren atau lebih lengkapnya Pantai Pasir Putih Remen (e dibaca seperti pada teko). Remen merupakan nama desa tempat pantai itu berada. tempat wisata ini masih baru. belum ada papan penunjuk di pinggir jalan yang menunjukkan jalan masuk ke pantai Remen. patokannya adalah Makan Syeikh Syubakir.

jika anda dari arah tuban menuju ke lasem, setelah PLTU Tanjung Awar-Awar akan ada jalan masuk besar di sebelah kanan yang merupakan akses masuk ke Pusat Pengolahan Minyak. terdapat papan penunjuk ke makam syeikh syubakir. ikuti saja jalan terus sejauh kurang lebih 3 km hingga memasuki gerbang masuk desa Remen. ikuti jalan hingga bertemu pertigaan dengan papan penunjuk menuju Pantai Pasir Putih Remen.
akses menuju pantai pasir putih meren

aksesnya masih belum dihaluskan, masih berupa jalan tanah melewati kebun namun bisa dilewati mobil. setelah membayar tiket masuk seharga 2.000 rupiah untuk motor (kami tidak diminta biaya per orang) maka kami tiba di pesisir pantai yang terlihat dari jauh hamparan pasir putih yang indah.
Memasuki Pantai Pasir Putih Meren
mungkin karena masih baru, pantai ini masih dikelola warga setempat. kami pun tidak dilarang membawa motor hingga ke pinggir pantai. kami pun segera menyusuri ceruk (cekungan yang berisi air dikarenakan pasang) dan tiba di pinggir pasir putih yang masih sangat perawan. ada beberapa pengunjung tapi masih terlihat bersih.



 sayangnya matahari sudah menghilang di balik awan. saya hanya sempat memotret siluet menara kilang minyak di kejauhan. tapi sangat bersyukur bisa datang ke pantai yang indah seperti ini di Tuban. lain kali harus kembali di saat matahari masih terang. hehehe
sunset di pantai pasir putih meren tuban
tak lama gema adzan maghrib pun berkumandang. kami segera bergegas meninggalkan pantai dan kembali ke kota Tuban.


Tempat-tempat wisata di kota Tuban part 1

Yeah, akhirnya saya dan mas Edo bersiap mengelilingi kota Tuban dan mengunjungi beberapa tempat wisata di kota Tuban. kalau belum baca kisah bagaimana saya sampai di kota tuban, baca dulu Tuban - Kenangan yang kembali terulang.

sebelum berangkat menuju destinasi pertama, kami pun makan siang dulu. menu pertama adalah Lontong Kikil. kiosnya berada tak jauh dari GOR (Gelanggang Olah Raga) kota Tuban. porsinya tidak terlalu besar, disajikan didalam mangkok berisi potongan lontong dan sayur kikil berkuah kuning seperti kuah soto yang khas dengan kunyit.
Lontong Kikil GOR Tuban
 setelah perut kenyang, kami pun menuju destinasi pertama yaitu Goa Akbar. goa Akbar berada di tengah kota Tuban (awalnya saya tidak percaya) karena akses masuknya hanya berjarak 50 meter dari jalan raya. memang tidak tepat di tengah kota. jika menggunakan Lyn (dibaca : len. angkutan umum berupa angkot) kuning maka akan melewati jalan masuk menuju goa Akbar.

akses masuknya kecil dan hanya muat motor. jika anda menggunakan mobil atau bis, maka masuklah dari jalan lain yang agak jauh dari gapura bertuliskan goa Akbar (tanya warga sekitar). akhirnya kami sampai di gerbang masuk goa Akbar. ada cukup parkiran untuk kendaraan anda baik motor maupun mobil. kami segera menuju loket karcis goa Akbar. harga tiketnya hanya sebesar 5.000 rupiah di akhir pekan. pada hari biasa, tiket hanya seharga 4.000 rupiah! murah banget kan.
loket karcis goa akbar
gerbang masuk goa akbar
awalnya saya ragu bakal menemukan wisata yang bagus banget melihat lokasinya yang dekat kota dan juga harga masuk murah. apalagi aksesnya yang kecil (sebelum saya tau ada jalan masuk mobil). tapi ternyata saya salah. yuk disimak ada apa saja di goa Akbar.
relief di goa Akbar tentang wali songo
pertama, setelah menyerahkan karcis masuk, kami disambut sangkar burung besar disebelah kiri berisikan burung-burung yang memberikan kesan "ini bukan cuma goa doang". disebelah kanan ada dinding mural berbentuk relief berisikan kisah seputar wali songo. saya tidak terlalu menyimak secara detail kisah yang diceritakan.

sejarah singkat goa akbar

di ujung relief, terdapat monumen kecil berisikan sejarah singkat goa Akbar. jalan masuk menuju Goa berada di sebelah kanan. jalan masuknya berupa tangga menurun memasuki goa yang sudah ditata rapi dan diterangi dengan penerangan yang baik.
tangga memasuki goa akbar
wow, ternyata goanya terlihat besar dari atas sini. semakin penasaran untuk turun dan memasuki goa. saya dibuat takjub dengan jalan yang rapih dan fasilitas yang masih terlihat bagus. akhirnya saya sampai di bawah tangga. awalnya saya pikir ini hanya goa dengan ceruk besar tapi ternyata saya salah. yuk masuk lebih dalam.
memasuki goa akbar
saat melangkah masuk, ternyata jalannya memanjang memasuki goa lebih dalam. semakin jalan sepertinya semakin masuk dan tidak ada habisnya. meski terlihat berputar-putar tapi rasanya terus masuk dan semakin penasaran ada apalagi didalam.
salah satu ceruk di goa Akbar
terdapat banyak ceruk-ceruk yang memiliki nama dalam bahasa sansekerta, namun sayang tidak ada penjelasan terkait penamaan tersebut. saya pun tetap menikmati suasana goa dan jalan yang tersusun rapi dengan rel pegangan dan juga penerangan yang cukup untuk menikmati suasana goa yang lembab. pengunjung lain mulai berdatangan, namun suasana tetap tenang dan santai. beberapa jalan dipenuhi tetesan dari langit-langit goa. namun tidak terlalu banyak stalaktik yang ada di langit-langit maupun stalagmit di lantai goa.

setelah 15 menit berjalan, kami masih terus masuk ke dalam goa. kami juga menemui sumber air asli goa Akbar. jalan pun tidak hanya datar, kadang menanjak dan menurun. kadang melewati ruang kecil dan kadang memasuki ruang yang sangat besar. sangat seru dan asyik berwisata disini. saya tidak menyangka akan menemukan wisata yang bagus di kota Tuban.

di ujung perjalanan sebelum keluar goa, kita memasuki ruang goa yang besar dengan langit-langit dipenuhi kelelawar-kelewar kecil yang sedang tidur. lantai goa pun sedikit tertutupi kotoran kelelawar dengan aroma amoniak yang tidak terlalu kuat. masih bisa ditolerir oleh hidung saya. hehehe.
musholla di dalam goa akbar

saat mulai meninggalkan mulut goa, ternyata ada sebuah ceruk yang dijadikan tempat sholat. musholla di dalam goa, wah baru kali ini saya menemukan. kebetulan waktu menunjukkan waktu ashar, kami pun berinisiatif mendirikan sholat ashar disini. mushollanya cukup bersih. atapnya dihalangi dengan atap fiber agar tetesan air gua tidak menggenang di lantai musholla dan suara yang dihasilkan dari tetesan air yang menimpa atap fiber menjadi musik alam yang menemani kekhusyukan sholat disini.
tangga keluar dari goa akbar
selepas sholat ashar kami pun beranjak meninggalkan goa dan keluar melalui tangga naik menuju pintu keluar. sepanjang jalan menuju gerbang keluar, terdapat beberapa kios-kios yang menjajakan oleh-oleh khas tuban seperti baju batik, makanan dan lainnya.

setelah keluar gerbang, ternyata ada gerobak es yang menjajakan es Siwalan. awalnya saya tidak tahu siwalan itu apa (ternyata siwalan adalah nama lain dari buah lontar yang saya kenal di jakarta). segelas hanya seharga 2.500 rupiah. rasanya segar seperti es dawet.
es siwalan seharga 2.500 rupiah
setelah menyegarkan tenggorokan yang dahaga, kami pun beranjak meninggalkan goa Akbar. kesan saya setelah memasuki goa Akbar itu KEREN KEREN KEREN banget apalagi kalo rame-rame. bisa lama banget di dalam goa sibuk foto-foto :p

demikian cerita seru kami berwisata di goa akbar tuban, yuk berlanjut ke destinasi kedua di daftar tempat-tempat wisata di kota tuban part 2


Tuban - Kenangan yang kembali terulang

jalan-jalan kali ini bisa dibilang dadakan. bagaimana tidak, jum'at sore saya baru menghubungi kawan saya yang saya harap sedang bertugas di Tuban. kawan satu komunitas saya memang bekerja di PLTU Tanjung Awar-Awar Tuban, namanya Edo.. tapi karena dia bekerja dengan sistem shift dan juga hari kerjanya tidak sama dengan pekerja kantoran yang libur sabtu-minggu. akhirnya saya mencoba peruntungan semoga mas Edo (walau sebenarnya dia lebih muda dari saya :p) sedang bertugas di Tuban dan tidak sedang libur dan pulang ke rumahnya di madura.

alhamdulillaah, mas Edo menjawab pesan saya dari whatsapp dan mengatakan bahwa hari sabtu bertepatan dengan dia libur pergantian shift. akhirnya setelah diskusi untuk transportasi dan akses kesana, saya pun beristirahat dan bersiap untuk berangkat sabtu pagi menuju Tuban. YEAY...... Lets Go!

sabtu pagi, saya bersegera mandi kemudian sholat subuh (tumben, biasanya mandi jam 6 :p) lalu bersiap untuk bergegas menuju terminal Terboyo Semarang. jam 5.30 pagi saya sudah duduk tenang menunggu bis Trans Semarang pertama dari terminal Mangkang menuju halte transit balaikota lalu melanjutkan lagi dengan Trans Semarang menuju terminal Terboyo. jam 6.30 saya tiba di terminal Terboyo dan segera mencari bis tujuan Semarang - Surabaya yang melewati kota Tuban. (padahal dikasih tau sama kenekny klo mw ke tuban naik jurusan ini :p).

Setelah mendapat posisi duduk yang nyaman yaitu dekat jendela dan bangku 2 seat, jam 7 tepat bis mulai bergerak meninggalkan terminal Terboyo. ternyata penumpang bis cukup ramai. belum jauh meninggalkan pintu keluar terminal, sudah banyak penumpang yang menunggu di luar terminal yang mulai naik bis dan beberapa sudah berdiri. 30 menit kemudian bis sudah memasuki jalur lingkar selatan demak menuju kudus.

harga tiket bis Patas Non AC Semarang  menuju ke kota Tuban sebesar 39 ribu rupiah. kursinya lumayan empuk, tidak terlalu keras. hawa panasnya pun tidak terlalu terasa bagi saya (secara saya ini makhluk anti AC. hahaha) dan karena supir bisnya melaju dengan ugal-ugalan. jadi saya fokus berdoa agar selamat sampe tujuan :X

estimasi perjalanan dari semarang ke tuban kurang lebih 5 - 6 jam berdasarkan informasi dari mas Edo. setelah kota kudus menuju kota pati, saya melewati kota bernama juwana. ternyata toko oleh-oleh khas semarang yaitu bandeng juwana mungkin pemiliknya berasal dari sini. memasuki kota pati, kiri kanan jalan diselingi oleh persawahan dan beberapa pasar dan perumahan penduduk.

setelah Pati, kami memasuki kota rembang yang identik dengan pria bersarung dan berkopiah hitam. sepertinya daerah Rembang terdapat banyak pesantren-pesantren di sepanjang jalan. meninggalkan rembang, bis memasuki daerah Lasem. aroma terasi dan amis ikan mulai menusuk hidung, tak lama saya pun melihat batas daratan, garis pantai yang sangat indah dipenuhi kapal-kapal kayu milik masyarakat sekitar. dari sini, jalanan seterusnya menyusuri pesisir pantai dan saya pun semakin menikmati perjalanan ini.

akhirnya jalur bis pun meninggalkan pesisir pantai. ini berarti sudah semakin dekat dengan kota Tuban (soalnya baru cek Google Maps :p). saya pun sempat melihat pabrik semen Holcim dan semen Gresik yang ternyata itu merupakan pelabuhan khusus. tak lama kemudian saya pun melihat sebuah cerobong asap bercat garis merah putih di kejauhan. itu adalah cerobong PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) Tanjung Awar-Awar. ternyata bis tiba lebih cepat dari estimasi. pukul 11.30 saya tiba di kota tuban, tepatnya terminal lama tuban (kini menjadi rest area Tuban).

SELAMAT DATANG DI KOTA TUBAN!
saya di monumen garuda tuban
terminal lama tuban (kini rest area tuban)

pesisir pantai kota tuban
eits, tunggu dulu. rasa-rasanya saya kenal dengan tempat ini. ini kan tempat saya transit ketika saya ingin berkunjung ke rumah kawan saya di daerah paciran, lamongan. ternyata dulu tahun 2012 silam (rasanya sudah lama sekali) saya sudah mengunjungi kota tuban meski sekedar transit untuk berpindah angkutan umum. ah, jadi keinget masa-masa kuliah. okeh, nanti aja mengenang masa lalunya. setibanya di terminal lama tuban, saya segera mencari angkutan umum yang disebut Lyn (dibaca : len) kuning. ini adalah satu-satunya angkutan dalam kota tuban, jadi jangan nanya nomer berapa dan tujuan apa. lyn kuning ini mengelilingi kota tuban yang terbilang kecil.
suasana kota tuban dari dalam lyn

saya akhirnya duduk manis (jangan nanya apanya yg manis) di dalam lyn menuju kostan mas Edo. sempat hujan turun sebentar namun setiba di kostan mas Edo hujan sudah berhenti. akhirnya pukul 12.30 siang saya tiba dengan selamat di kostan mas Edo. kami pun mulai menyusun rencana wisata yang akan kami datangi hari ini.

setelah istirahat sejenak, akhirnya kami sudah menyusun tempat-tempat wisata yang akan dikunjungi di kota Tuban, simak ya di artikel selanjutnya Tempat-tempat wisata di kota Tuban >>>

20 March 2015

Gemukan atau Kurusan?


gambar : sidomi.com
beberapa kali saya mendapat teguran. bagi saya, ini teguran yang baik tapi bagi yang lain mungkin terdengar buruk. hehehe. di grup whatsapp, teman saya mengatakan bahwa saya terlihat gemukan setelah memposting foto terbaru saya saat wisata ke suatu tempat. padahal saya sendiri merasa tidak ada perubahan yang signifikan tapi mendengar ucapan itu saya jadi sedikit tersanjung (walau ga yakin bener).

saya menerima teguran itu sebagai semangat dan juga alasan bagi saya untuk lebih menikmati tugas saya selama di Semarang. sejak teman saya berkata bahwa saya gemukan, perasaan saya menjadi lebih baik dibanding saat awal-awal pertama di Semarang. bosan dan sepi kadang membuat saya tidak betah dan akhirnya ngomel sendiri.

semenjak teman saya berkata bahwa saya gemukan (termasuk juga putihan), nafsu makan saya tiba-tiba meningkat. sarapan pagi pun menjadi keharusan meski yang dimakan adalah makanan tradisional seperti bihun goreng dan getuk. makan siang pilihannya terbatas, jika tidak ke warung soto, kami makan siang di kantin dengan menu warung makan rumahan yang sederhana (soto ayamnya hanya seharga 2500 rupiah!).

saya tidak cepat percaya dengan perkataan teman saya, saya harus mengecek dulu dengan timbangan yang sepertinya sulit sekali menemukannya disini :(. baiklah, mari kita nikmati saja proses kehidupan ini dan dijalani dengan penuh rasa syukur.

*semoga berat saya benar-benar naik :D